Kemarau datang dalam diam
Ikuti hembusan lembut angin
Lewati celah awan kelam
Menebar panas serupa jala
Tatapan mentari terik
Sinarnya mengepung bumi
Warnanya kering
Terangi siang kerontang
Musim mencapai kulminasi
Panas menjadi peluh dan keluh
Bayangpun tersandera
Seteguk air membilas haus
Setampuk atap menangkap semilir
Kemarau tetap tiada beranjak
Tidak ada komentar:
Posting Komentar