Kau datang dengan menyeret merah amarah
Hatimu berdegup keras dirajam murka
Sedang matamu menadah tangis
Hingga kepedihan mengalir bergulir perlahan
Membasahi dan menggenangi duka cintamu
Katamu datar menyingkap ucap kecewa
Seperti perih teriris sedih tak pulih
Bendung air pada matamu mengajuk koyak
Menetes runtuh menjadi genangan nestapa
Menghanyutkan setiap onak dan meluruhkan tembok lara
Dan ketika usai badai laut selatan
Hati kembali bertautan pada isak dahaga rindu
Langit kembali berwarna biru mengharu
Angin membisikkan rayuan hati bernada kasih
Kita berpelukan dalam asmara puja
Tidak ada komentar:
Posting Komentar