Tiba-tiba semua berwarna merah
Seperti darah, mengalir dan tumpah
Bermuara dengki bercampur resah
Tiap langkah menggiring hujah
Ucap berubah menjadi serapah
Mengalir ke kubangan dosa dan salah
Waktu merujuk sore terik berpeluh
Bermandi airmata mengupas kilah
Membiarkan ego menjadi suluh
Khilaf dan maaf terdiam dan kalah
Duka mengisi hari dengan pongah
Menepis damai melepas amarah
keren
BalasHapusTerima kasih, ini seri pertama dari 3 puisi
BalasHapusPuisi "Trilogi AMARAH: I. BARA" menggambarkan intensitas kemarahan yang memuncak, menyelimuti semua dalam warna merah, simbol amarah dan kekerasan. Penggambaran ego yang membesar serta penyesalan yang terbungkam memperkuat kesan betapa sulitnya melepaskan amarah. Akankah ada kelanjutan dari trilogi ini?
BalasHapus