Sedikitnya, lidah meletakkan lelatu ke wajah amarah
Angin jua meniup merah bara hingga terbakar duka
Segala benci telah kunci hingga tutupi kata
Pandang jadi sembilu mengoyak
Di ruang senyap, rindu selalu berpapasan dan bergandeng tangan
Tembok mulai bata retak bangunannya
Dari celahnya segenap sinar menerobos deras bercerita
Rasa kikuk yang diam menelisik dengan sepenuh antusias
Pada akhirnya ruang membuka jendela hati
Segala prasangka yang tajam dan kotor tersapu kenangan
Sawang di langit-langit terbang terbawa angin kembara
Dalam diam bibir merekah senyum dan mata binar memandang
Tidak ada komentar:
Posting Komentar