Aku tengah menyandang sombong bak merak
Dunia hanya lipatan kumal pengetahuan
Jejak langkah menjadi tera bagi tiap perjamuan
Segenap pesona terjamah bahasa tubuh
Muda sebagai waktu dan predikat
Hingga nasib menulis di lembar asmara
Sebab telah berkubang di cinta yang sama
Mengais dosa dalam satu liang
Setidaknya kita pernah jadi ikrar
Kau adalah iga kiri ukir berpola mimpi
Retakannya sebangun dengan segala rindu
Senyum dikandung adalah perangkap. Karena terpana
Tubuh sintal beraroma birahi muda
Kerling malu yang membetot lembar jiwa lara
Sedang usia telah matang menanggung beban cinta
Serupa wayang di pelaminan
Sebagaimana kompromi yang satukan alasan
Naib mengikat ego di secarik kertas
Minggu, 03 Februari 2019
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
JANGAN TUNGGU LAMA
Tidaklah menunggu bahkan menunda Sebab tiada hasil nir keringat Harga... Nilai... Dinisbahkan pada waktu Ditasbihkan lewat air mata
-
Nampaknya musim tak serta merta bergulir Ia meletakkan panasnya di bahu siang yang terik Dan malam-malam yang sumuk singgah di peraduan Ket...
-
Daun terapung dan, jatuh di haribaan Menanggalkan warnanya dan, meninggalkan ranting yang merana Pada kering ia berlabuh Karena kenangan jel...
-
Seorang anak mengais nasib di tepi jalan Jari kecilnya merintih Tubuhnya ringkih Hingga berbayang tulang Panas menggerenyitkan wajahnya Baju...
Puisi ini menggambarkan kompleksitas hubungan cinta yang bercampur antara kesombongan, gairah, dan takdir. Dengan gaya bahasa yang indah, simbol-simbol seperti "merak" dan "iga kiri" memperkuat gambaran emosi yang mendalam, sementara penggunaan metafora tubuh dan pernikahan memberi kesan tentang kedalaman perasaan cinta, kerinduan, dan penyesalan.
BalasHapusPenyatuan dalam cinta, meski berliku, disampaikan lewat bayangan tubuh yang terukir oleh mimpi dan retakan rindu yang tak terhindarkan. Pada akhirnya, kehadiran naib dan secarik kertas menjadi simbol keterikatan formal yang mengunci ego di dalam kompromi, seperti pasangan wayang di panggung kehidupan.
Sebuah eksplorasi yang penuh makna, tentang cinta yang sudah melalui masa muda hingga kematangan. Apakah puisi ini terinspirasi dari pengalaman pribadi atau sekadar khayalan?