Selasa, 24 Februari 2026

PUDAR

Ketikanya matahari bersua senja
Warnanya bersolek hingga jingga
Diserunya bulan agar purnama ia
Lalu diantarnya menuju pangkuan

Matahari melipat sinarnya, lembut
Hingga jelaga itu langit
Lalu malam melebur
Melingkupi bumi

Selasa, 17 Februari 2026

SEDEKAH BUMI

Hujan turun dan telah
Bumi pun hilang gerah
Warnanya segaris cerah
Antara riang yang gelisah

Dengan setangkup sajen
Kembang tujuh rupa
Teronggok di pelepah malam

Bersama doa dan asap dupa
Dilarungnya harapan
Di malam penuh puja
Binatang pun berpendar

Sabtu, 14 Februari 2026

TA'ZIAH

Dengan menggenggam sekadar duka
Kita sebarkan serumpun doa di pusara
Dan seikat gugur bunga

Di pelataran senja,
saat serangga malam birahi, 
orang duduk bersimpuh
Sedih dan air mata berpilin

Sambil membisikkan nama
Kita mengingat
Kita berbela sungkawa

Setelah cukup simpati, 
kitapun tetapi pamit, 
melanjutkan hidup. 

Selasa, 10 Februari 2026

PERJANJIAN

Karena hidup kian sempit menghimpit
Dan celana semakin longgar
Maka berangan-angan pun sulit
Sebab tiada obyek selain lapar

Di kantong masih sisa recehan
Hasil banting dan keringat rodi
Cukup untuk sekali makan
Dan sebatang rokok minus cukai

Antara melangkah dan diam
Antara makan dan kopi
Ada rokok di keduanya
Ada kenyang di antaranya

Kamis, 05 Februari 2026

TERUS MENGHILIR

Tetaplah melarung 
mengantar daun jatuh
Sebagaimana cinta 
menebar mimpi yang rindu
Sedangkan kata meratap 
merapal mantra puja
Namun kau tetap menatap harapan 
dari bibir pantai


Minggu, 01 Februari 2026

JANGAN TUNGGU LAMA

Tidaklah menunggu 
bahkan menunda
Sebab tiada hasil nir keringat

Harga... 
Nilai... 
Dinisbahkan pada waktu
Ditasbihkan lewat air mata

Sabtu, 31 Januari 2026

MALAM-MALAM KOTA

Wajah langit masih tetap sama
Bintang berkedip memicingkan mata
Menyimpan serinya di antara sisa awan kumulus
Tak angin hanya sumuk terendus

Trotoar mulai berdandan
Bangku berjejer nontoni
Sepasang kekasih jalan berdempetan
Sinar lampu bercampur purnama melukis bayangan

Taman kota tiang tinggi
Tanaman semak merambat
Segerombolan muda mudi bercengkrama
Suaranya terbawa suasana

Dua beca diparkir dekat warung kopi
Pengemudinya tua duduk di jok depan
Pemandangan langka di belantara kota
Karena mesin telah menggantikan

Di keriaan sepanjang jalan 
Klakson berteriak menyalib
Bersahutan dengan petir membelah langit
Tiba-tiba hujan turun tanpa kulonuwun

PUDAR

Ketikanya matahari bersua senja Warnanya bersolek hingga jingga Diserunya bulan agar purnama ia Lalu diantarnya menuju pangkuan Matahari mel...