Sabtu, 22 Agustus 2026

MIMPI BURUK

Karena mimpi buruk bermakna merah
Kuseduh saja kopi dengan air mata
Agar kantuk tenggelam di dasarnya 

Dengan seksama kuteguk setegukan kopi
Sepenanak nasi kemudian mata pun merah
Hinggap menatap mimpi dan bersitatap

Semakin merah ruang
Semakin detak waktu
Dan tidur adalah satu keniscayaan

NGOMONG SAMA ANGIN

Sore itu kuundang angin
Lalu ia duduk dan menatap kopiku
Hingga nyaris dingin dibuatnya

Kutanya padanya, 
mengapa kau meniupnya?

Ia hanya diam 
lalu mendatangi dedaunan
Bersamanya ia terbang menyerbuki sisa kopiku

Senin, 17 Agustus 2026

TANAH RATAPAN

Bumi meregang
Bahunya terentang
Gemetar. 

Lalu laut tersungkur
Menjauhi garis pantai
Dan menyapu sebagai Syiwa

Nyawa hanya daun kering
Terinjak diantara teriak dan tangis

Bangunan merintih tertindih
Lebur berkalang tanah

Minggu, 16 Agustus 2026

MERAPAL PANCASILA

Burung itu, Garuda, matanya katarak
Bulu-bulunya nyaris brodol
oleh UMR, 
pegawai honorer, 
pengangguran, 
dan kemiskinan struktural

Sedangkan sang saka, 
berkibar, 
menunduk, 
prihatin 
dari barat hingga timur air mata

Ikatannya kian kedodoran, 
karena ditambang buminya, 
dipangkas hutannya, 
dikebiri usahanya

Tahun ini ke 81 
dan harapan masih terpasung. 

Sabtu, 15 Agustus 2026

BANGKRUT

Kata tak kuasa mendekap arti
Pecah belahnya suku dan huruf

Terombang-ambing di alam pikiran
Melesakkan puisi ke dalam kubangan

Sementara aku hanya terpana
Sambil duduk di kursi 

Menatap nyalang buku 
yang hilang menjadi rimba huruf

Hanya pada kopi aku mengeluh keluh 

Minggu, 09 Agustus 2026

AGUSTUS KE DELAPAN SATU

Podium hanyalah ruang caci maki
Dan mimpi besar kemakmuran
Adalah oligarki beserta kroni

Ku reguk kopi pagi
Terasa pahitnya hari

Dikunyah dengan rakus
Dihisap dari tanah tandus
Semua terbang ke negeri jauh

Kopi hampir dingin
Aromanya kemiskinan struktural

Makan beracun
Toko membunuh saingan
Mengusir pemilik hingga mudik

Sisa kopi hanya ampas
Harapan kian jauh panggang

Rabu, 05 Agustus 2026

LELAKI YANG MENGGADANG MALAM

Malam sepertinya tak pernah jelaga
Karena bintang kerap tercerna

Sebagai hidangan penutup
Ia menyeduh kopi dengan harap

Dan pahitnya membumbung
Hingga mengembun 
di cakrawala pikir

Di akhir masa
Jendela memejam
Mengeja angin di luasan padang

MIMPI BURUK

Karena mimpi buruk bermakna merah Kuseduh saja kopi dengan air mata Agar kantuk tenggelam di dasarnya  Dengan seksama kuteguk setegukan kopi...