Wajah langit masih tetap sama
Bintang berkedip memicingkan mata
Menyimpan serinya di antara sisa awan kumulus
Tak angin hanya sumuk terendus
Trotoar mulai berdandan
Bangku berjejer nontoni
Sepasang kekasih jalan berdempetan
Sinar lampu bercampur purnama melukis bayangan
Taman kota tiang tinggi
Tanaman semak merambat
Segerombolan muda mudi bercengkrama
Suaranya terbawa suasana
Dua beca diparkir dekat warung kopi
Pengemudinya tua duduk di jok depan
Pemandangan langka di belantara kota
Karena mesin telah menggantikan
Di keriaan sepanjang jalan
Klakson berteriak menyalib
Bersahutan dengan petir membelah langit
Tiba-tiba hujan turun tanpa kulonuwun