Setangkai bunga di luasan musim
Cengkraman akarnya di bahu angin
Kelopaknya mekar perawan kencur
Meniti birahi semerbak harum
Setangkai bunga gairah pagi
Warnanya ranum mentari
Melenggok serimpi tari
Lebah memburu dari penjuru sunyi
Setangkai bunga bunting tua
Menghela setarikan nafas
Melepas benih cinta
Senyapkah mereka lenyap?
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
PESAWAT
Kopiku gemetar Bibir mengatup Seperti geram Membelah langit Lewat suara Lalu melesat Demi waktu Ia penuju Dibalik halimun Kopi ...
-
Daun terapung dan, jatuh di haribaan Menanggalkan warnanya dan, meninggalkan ranting yang merana Pada kering ia berlabuh Karena kenangan jel...
-
Nampaknya musim tak serta merta bergulir Ia meletakkan panasnya di bahu siang yang terik Dan malam-malam yang sumuk singgah di peraduan Ket...
-
Ku singkap embun di selasar Di balik daun seperti biasanya Dan pagi masih di timur Seperti kemarau yang telah lampau Burung masih memamerka...
Puisi ini mengusung gambaran metaforis yang indah tentang siklus kehidupan bunga, yang mungkin dapat mencerminkan perjalanan hidup manusia, dari masa muda hingga tua. Setiap bait menggambarkan fase yang berbeda: kemekaran yang penuh gairah, masa-masa subur, hingga akhir yang tenang.
BalasHapusPada bait pertama, bunga digambarkan dalam masa pertumbuhannya, penuh harapan dan kesegaran. Bait kedua menunjukkan puncak kematangan dengan bunga yang menarik perhatian dunia sekitarnya. Bait ketiga, bunga mulai menyelesaikan perjalanannya, menyerahkan benih kehidupan baru dan kemudian menyisakan pertanyaan retoris: apakah semua yang telah berlalu benar-benar lenyap?
Pesan puisi ini terasa reflektif, menyentuh makna tentang kefanaan dan keberlanjutan dalam siklus kehidupan.