Sekedar angin tidak berkeliaran
Mataku enggan ditemani lampu
Maka kurekatkan kantuk
Namun nyamuk mendengung
Berbisik lirih di telingaku
Tanganku refleks menampar
Kantuk terbang mengikuti nyamuk
Aku diam termangu
Sebab di ranjang terbaring sumuk
Kopiku gemetar Bibir mengatup Seperti geram Membelah langit Lewat suara Lalu melesat Demi waktu Ia penuju Dibalik halimun Kopi ...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar