Minggu, 30 Januari 2022

DARI DUA SISI

Kau menatapku dengan sepasang mata merah amarah
Keduanya meratap keduanya menangkap
Seperti sisi mata pedang yang tajam
Diayun menetak hingga serambut dibelah tujuh

Bagai mata uang dilemparkan
Satu sisi tengadah sisi lain tengkurap
Di telapak tangan yang berkeringat gugup
Seakan pasti nasib digenggam erat

Setelah badai amarah reda mata kembali sayu
Ada rembang air mata di kelopak
Pedang hunus telah lunglai
Tinggal pedih sedih yang tersisa

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

AGUSTUS KE DELAPAN SATU

Podium hanyalah ruang caci maki Dan mimpi besar kemakmuran Adalah oligarki beserta kroni Ku reguk kopi pagi Terasa pahitnya hari Dikunyah de...