dengan membawa lelah
Dan debu sebagai pupur
menghiasi wajah musim
Ku seduh kopi sore
di antara manis pahitnya
Lidah mencicipi
hingga genap aromanya
Aku menemani
hingga senja sehitam kopi
Sebagai lambaian perpisahan
gemerisik di antara dedaunan
Hutan terbakar; itupun jika disebut hutan Api berkobar karena salah kemarau Dan dosa angin yang meniup hingga tetangga Tiada ada dosa puntun...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar