Rabu, 08 Juli 2020

JEMBATAN

Jembatan merentangkan bahu
Rebah diantara barat dan timur
Kakinya tegak menahan arus
Basah terendam air sungai

Dari selangkangannya burung berterbangan
Mengejar memburu makanannya
Kadang melayang sejajar aliran
Tiba-tiba membumbung menusuk langit

Jika malam merkuri mengawasi
Memandang kendaraan yang lalu lalang
Orang duduk diam di pagar pembatas
Memandangi jorannya sambil merokok

Senin, 06 Juli 2020

HUJAN JULI

Hujan datang lagi sejak sore
Tidak tergesa hanya gerimis
Diketuknya pintu malam
Lalu dengan sabar menanti di halaman

Hujan kali ini hanya mengajak dingin
Sesekali rintiknya menabuh
Sedangkan angin beristirahat
Merebahkan lelahnya di dedaunan

Dini hari hujan tetap berdatangan
Dengan santun lembut berbisik
Pada mimpi yang terus menelisik
Dan mohon maaf pada pemilik hati

Minggu, 05 Juli 2020

BERTANDANG

Melintasi sore yang kemarau 
Dilesaki rindu kisah lampau
Jejak langkah lewati kenangan
Membawa sekedar buah tangan

Di amben dimana kita tumbuh
Di kamar bertembok aneka foto
Tahun yang digenapi teronggok
Luruh sebagaimana debu

Sekian waktu bercengkrama
Berbagi kehangatan dengan ucap
Sehabis perbendaharaan kata
Kita menggenapi janji pulang

Sabtu, 04 Juli 2020

BAHAGIA

Dimanakah seharusnya bahagia diletakkan
Pada kejutan kecil kenangan
Sentuhan lembut hingga merinding
Percakapan ringan di teras

Musik adalah dosis rindu sangat kuat
Khasiatnya cepat menguap 
Sisakan pahit yang mengendap
Candu!, hingga terus berulang

Dimanakah seharusnya bahagia diletakkan
Di lembaran hari yang ditulis oleh tangan
Di persilangan warna bernama senja
Malam birahi dan angin malam

Ketika itu kita mencoba menangkap kata
Dikumpulkan di benak dan hati
Beranak pinak berdesakan dan memenuhi
Lalu dihembuskan perlahan ke udara

Dimanakah seharusnya bahagia diletakkan
Sebuah pertemuan yang diharuskan nasib
Pertengkaran yang tayang di layar mata ketika terpejam
Kelegaan jarak dan waktu oleh perpisahan 

Satu saat bahagia mencari jalannya sendiri
Sebab keharusan sejarah
Mengisi ceruk yang kosong
Dan bersemayam dengan lemah lembut

Kamis, 02 Juli 2020

MATAHARI TERBIT

Ketika itu di timur matahari
Wajahnya bulat buah apel
Merah berseri perawan kencur
Rambut cahayanya terjurai

Bumi menyibak tirai malam
Bangun dari nyenyak 
Menanggalkan selimut mimpi
Merias tubuh aneka warna

Angin dengan ramah mengusik dingin
Menyapa setiap lembar daun
Biru langit dibentang
Matahari beranjak menuju awan

MELEWATI PEMAKAMAN

Takut adalah nisan yang ditancapkan
Rumpun bambu betung serupa penunggu
Suaranya berderak tertiup angin
Batangnya merunduk menjaga Kamboja

Keranda di gerbang malam dijaga lampu
Bau tanah lembab bercampur kembang
Terbang bersama jiwa-jiwa yang sesat
Kendi dan sajen di gundukan ada saksi

Jalan desa lengang
Bahunya bersinggungan dengan pagar makam
Lampu jalan di ujung tikungan
Cahayanya menggapai mengajak bergegas

MUSYAWARAH UNTUK MUFAKAT

Ruangan kian sempit dengan ide
AC tidak dapat mengusiknya
Semua sanggahan telah dimuntahkan
Serupa ludah berbusa di sudut bibir kering

Argumen yang dibangun oleh keringat dan kata
Perlahan menjadi benteng pertahanan. Resisten
Menepis setiap panah yang dilesatkan
Dan waktu diam di tempat

Ketika moderator mengambil alih pertempuran
Semua mata menatap palu 
Dengan menyebut nama Tuhan
Rapat ditutup dengan voting

LELAKI YANG MENGGADANG MALAM

Malam sepertinya tak pernah jelaga Karena bintang kerap tercerna Sebagai hidangan penutup Ia menyeduh kopi dengan harap Dan pahitnya membumb...