Jumat, 13 Desember 2024

SENJA, HUJAN DAN AKHIR TAHUN

Musim menggelandang 
Di akhir tahun warnanya antara sejuk
Awanpun berarak
Melabuhkan senja temaram

Seperti di haribaan ibu
Sesaat setelah hadirnya
Gelappun memeluknya 
Dengan lembut

Dan di akhir siklus
Dimana hitungan mundur
Ribuan pasang mata menatap
Kembang api warna warni pun menyala

Kamis, 12 Desember 2024

BASAH

Akhir tahun selalu saja kuyup
Berlaku di haribaan malam
Sebagai pertanda
Sebuah siklus

Keriaan turun penuju ke rumah
Terasa hangat di luasan hati
Di malam yang terasa fitri
Keluarga saling berbagi

Sementara hujan terus saja 
Di sofa kita bertukar sentuh
Tanpa suara tiada kata
Hanya saling berpagut

Jumat, 06 Desember 2024

DERAS

Karena musim telah melingkupi 
Maka hujan turun sebagaimana tirai

Jatuhnya di pelimbahan juga
Berderai memagari hari-hari yang kian panjang

Petir kadang datang tanpa warna
Seringnya sembunyi di gundukan awan

Mengintai ibu bumi yang basah
Lalu lelatunya silau sebagai suar

Saat malam berpeluk tanpa bintang
Derik jangkrikpun lenyap. Senyap.

Hanya dingin yang masih 
Dan bediding tersapih

Selasa, 03 Desember 2024

SETELAH PEMILIHAN

Kala itu pemilihan masih sekadar pasang omong
Sebab waktu telah ditetapkan 
Lalu ceritanya jadi kabar angin 
Bersama asap rokok ke langit malam

Memang telah ada keberpihakan 
Saur manuk dan omong klobot 
Tapi tak ada permusuhan 
Hanya saja kata telah diasah

Ketika pemilihan usai 
Pesta adalah kemenangan
Sedangkan kalah suara bersebrangan 
Dan bangku di pos ronda kembali senyap

Senin, 02 Desember 2024

FASE

Setiap kali meninggalkan jejak langkah
Semakin dekat arah tuju
Nun di batas angan
Kita penuju

Memang persembahan korban perlu
Untuk menegaskan hasil
Maka kuatkan tekad
Injak dan sibak semua onak duri

Ketikanya pulung telah nampak di langit
Raihlah dengan segenap remasan jari
Lalu letakkan di palung pikiran
Sebagai jerih keringat kita

Jumat, 29 November 2024

KITA BERSINGGUNGAN

Sesungguhnya tiadalah antara cemburu
Karena waktu telah terhitung
Hanya sedikit ucap tak lekang di hati
Namun dikipasi hingga lelatu

Dalam hitungan jari
Api membakar menjadi kata
Menghardik hingga bara
Lalu kita saling berhadapan sambil menghunus

Ketikanya angin telah berlalu
Dan hati menjadi dingin
Berhadapan kita likat
Dalam sanubari kita lekat

Senin, 25 November 2024

SUNGGUH KAU MENGAGETKAN

Ketika itu sore belum lagi labuh
Langit terlihat bunting tua
Suara guntur merobek
Menggelegar hingga jatuh bercucuran

Ramai suara menabuh di atas genteng 
Angin masih memayang pepohonan
Lagi, suara kembali memecah senja
Akupun hanya bisa mengucap mantra

Sepeminum teh hujanpun reda
Tetapi langit tetap saja murung
Masih ada gerimis yang ritmis
Dan bumi basah kuyup

AGUSTUS KE DELAPAN SATU

Podium hanyalah ruang caci maki Dan mimpi besar kemakmuran Adalah oligarki beserta kroni Ku reguk kopi pagi Terasa pahitnya hari Dikunyah de...