Ziarahku mencapai kulminasi
Sebagai tanda termaktub
Semak meranggas di sekitar
Warnanya pudar serupa mozaik
Dahagaku siang berangin samum
Mencari seteguk air
Jejak langkah tinggalkan takdir
Sebagai kesadaran nurani
Hatiku lurluh bersimpuh peluk
Bersimbah darah duka menikam
Mengecap kesenyapan baka yang asing
Tanda baca dari garis warna
Tujuh lingkar doa merambah langit
Mengukir tanda di lontar suci
Tangan di bawah menadah janji
Madah angin berbisik
Di akhir pesinggahan
Hari semakin senja dan tua
Sedikit kenangan menjawab ragu
Dan pedalaman pikiran berbisik lirih
Senin, 12 Maret 2018
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
PESAWAT
Kopiku gemetar Bibir mengatup Seperti geram Membelah langit Lewat suara Lalu melesat Demi waktu Ia penuju Dibalik halimun Kopi ...
-
Daun terapung dan, jatuh di haribaan Menanggalkan warnanya dan, meninggalkan ranting yang merana Pada kering ia berlabuh Karena kenangan jel...
-
Nampaknya musim tak serta merta bergulir Ia meletakkan panasnya di bahu siang yang terik Dan malam-malam yang sumuk singgah di peraduan Ket...
-
Ku singkap embun di selasar Di balik daun seperti biasanya Dan pagi masih di timur Seperti kemarau yang telah lampau Burung masih memamerka...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar