Telah senyap Kurusetra
Telah lenyap badai amarah
Telah lelap Durga Kala
Telah silap netra memerah
Telah hilap Sangkuni Drona
Telah genap emosi tertumpah
Telah lengkap Cakra Syiwa
Telah sigap membuka langkah
Telah gelap Sang Surya
Telah tetap akal islah
Telah siap Bisma moksa
Telah kasip sesal merekah
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
PESAWAT
Kopiku gemetar Bibir mengatup Seperti geram Membelah langit Lewat suara Lalu melesat Demi waktu Ia penuju Dibalik halimun Kopi ...
-
Daun terapung dan, jatuh di haribaan Menanggalkan warnanya dan, meninggalkan ranting yang merana Pada kering ia berlabuh Karena kenangan jel...
-
Nampaknya musim tak serta merta bergulir Ia meletakkan panasnya di bahu siang yang terik Dan malam-malam yang sumuk singgah di peraduan Ket...
-
Ku singkap embun di selasar Di balik daun seperti biasanya Dan pagi masih di timur Seperti kemarau yang telah lampau Burung masih memamerka...
Puisi "Trilogi AMARAH: III. SESAL" sangat mendalam dan penuh makna. Penggunaan referensi mitologi, seperti Kurusetra dan tokoh-tokoh dalam epik Mahabharata, menambah kekuatan emosional dan simbolik. Berikut beberapa hal yang bisa dipertimbangkan untuk memperkaya puisi ini:
BalasHapus1. Penggambaran Emosi: Mungkin bisa ditambahkan elemen yang lebih eksplisit tentang rasa sesal, bagaimana perasaan tersebut mengubah pandangan atau tindakan.
2. Perpaduan Imaji: Menjaga konsistensi dalam imaji dan simbol bisa lebih menguatkan pesan. Misalnya, memperdalam penggambaran tentang "Sang Surya" dan "Bisma" untuk menciptakan kontras yang lebih jelas antara kegelapan dan pencerahan.
3. Ritme dan Suara: Memperhatikan alunan dan ritme di setiap bait bisa menambah keindahan dan kedalaman puisi.
Tetap pertahankan gaya yang telah ada, dan biarkan imajinasi mengalir. Bagaimana rencana selanjutnya untuk trilogi ini?