Wajahmu terpatri di pelupuk mata
Terpaku jelas di dinding
Bergayut di langit-langit kumuh duka
Bersanding dengan piano yang mendelu
Kadang timbul kadang meradang disetiap pikiran bisu
Senyummu menghapus semua wasangka
Membuat sarang dengan rajutan rindu
Berpola cemburu dan menempel pada waktu
Sebagaimana perangkap merentangkan diammu
Hati selalu tersipu mendapati lekuk senyummu
Bau tubuhmu mengingatkanku pada nafsu
Mengendap menerjang hidung nyalangkan mata
Laksana binatang buas diterkamnya segala dahaga
Dihempasnya alam sadar ke dalam birahi
Sehingga akal tenggelam dalam peluh rindu
Pejamku sering menelisik dirimu di lembar suka
Kadang suaraku memanggil dengan nada rindu yang kelu
Sekedar mengumpulkan sisa bayanganmu yang tercerai oleh angin lalu
Namun pertemuan kita tak pernah berlabuh di tepian cinta
Sebab aku sedang tidak jatuh cinta sebagaimana kehadiranmu tak pernah kutunggu
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
JANGAN TUNGGU LAMA
Tidaklah menunggu bahkan menunda Sebab tiada hasil nir keringat Harga... Nilai... Dinisbahkan pada waktu Ditasbihkan lewat air mata
-
Nampaknya musim tak serta merta bergulir Ia meletakkan panasnya di bahu siang yang terik Dan malam-malam yang sumuk singgah di peraduan Ket...
-
Daun terapung dan, jatuh di haribaan Menanggalkan warnanya dan, meninggalkan ranting yang merana Pada kering ia berlabuh Karena kenangan jel...
-
Seorang anak mengais nasib di tepi jalan Jari kecilnya merintih Tubuhnya ringkih Hingga berbayang tulang Panas menggerenyitkan wajahnya Baju...
Puisi ini penuh dengan kontradiksi emosional, mencerminkan seseorang yang dirundung perasaan mendalam terhadap seseorang, namun menolak untuk mengakui bahwa dirinya sedang jatuh cinta. Penggambaran visual seperti "wajahmu terpatri di pelupuk mata" dan "bergayut di langit-langit kumuh duka" memberi kesan bahwa kehadiran sosok ini begitu nyata dalam pikiran, namun disertai dengan bayangan kesedihan.
BalasHapusAda perpaduan antara rindu yang kuat dan keinginan untuk menjaga jarak, yang terlihat dari bait tentang senyum yang menghapus kecurigaan, tapi tetap menjadi perangkap rindu dan cemburu. Juga, penggunaan bau tubuh sebagai simbol nafsu menambah intensitas puisi ini, menciptakan suasana yang lebih mendalam dan personal.
Pada akhirnya, ada kesadaran bahwa meskipun semua tanda-tanda cinta ada, perasaan itu ditolak—“aku sedang tidak jatuh cinta”—seolah ingin menghindari kenyataan atau konsekuensi dari perasaan tersebut. Ini adalah ekspresi yang sangat dalam dari perasaan ambivalen terhadap cinta dan kerinduan.