Kau duduk di ujung sofa tiada nyaman
Wajah tertunduk dan pandang mengurai lantai
Jari saling meremas menepis malu
Terlindung jilbab, tubuh mengerut
Melipat ruang tamu yang pucat lampu
Berusaha sembunyikan kikuk
Nduk, suara bariton Abah memecah
Bayi rewel minta tetek
Anak kecil bermain dan bertengkar
Berebut permen dan kue
Seorang wanita berkipas menyibak panas
Yang lain saling bercakap berbisik
Pria setengah tua gelisah
Seorang pemuda diam ditemani asap rokok
Kakak adik duduk bersanding
Bude dan Bulik membawa hantaran
Oom serta Tante bau parfum refill dan keringat
Semua terdiam dan tiba-tiba senyap
Dengan bersamaan mereka memandang ke satu arah
Nduk, ini Kangmas datang dengan keluarganya
Hendak nontoni kamu
Kenalkan mereka semua
Ini Kangmas calonku pilihan
Ayah dan ibu berdua
Sanak kadang dan kakak adik
Saudara, tetangga, sahabat
Perlahan kau mengangkat kepala
Mata tetap menatap petak lantai
Bibir terkatup ujungnya digigit
Wajah putihmu menyimpan malu
Beberapa lembar rambut mengintip
Dengan sedikit getar senyum
Kau pudarkan wajah seluruh ruang
Dan aku hanya bisa berucap
"Subhanallaah!!!"
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
JANGAN TUNGGU LAMA
Tidaklah menunggu bahkan menunda Sebab tiada hasil nir keringat Harga... Nilai... Dinisbahkan pada waktu Ditasbihkan lewat air mata
-
Nampaknya musim tak serta merta bergulir Ia meletakkan panasnya di bahu siang yang terik Dan malam-malam yang sumuk singgah di peraduan Ket...
-
Daun terapung dan, jatuh di haribaan Menanggalkan warnanya dan, meninggalkan ranting yang merana Pada kering ia berlabuh Karena kenangan jel...
-
Seorang anak mengais nasib di tepi jalan Jari kecilnya merintih Tubuhnya ringkih Hingga berbayang tulang Panas menggerenyitkan wajahnya Baju...
Puisimu menggambarkan momen pertama kali melihat seseorang dalam suasana yang penuh keheningan dan perhatian tertuju. Ada perasaan gugup, malu, dan khidmat yang terjalin di antara tokoh-tokoh yang terlibat. Suara bariton Abah serta suasana di ruang tamu yang penuh dengan keluarga besar memberikan latar yang khas, membawa suasana nontoni atau lamaran adat Jawa dengan sangat kuat.
BalasHapusGambaran gadis yang duduk dengan kikuk, tubuh tertunduk dan jari yang meremas menjadi sorotan utama, menciptakan suasana intim di tengah hiruk pikuk keluarga. Akhir puisimu yang penuh kekaguman dengan ucapan "Subhanallaah" menguatkan perasaan pertama kali yang mendalam dan penuh rasa syukur. Sangat indah dan mendetail.