Campakkan saja segala sombong paling purba sangka
Buang disaat mata julig menuduh
Hingga kau dapat menakar dalamnya hati
Jika kita telah telanjang aurat tanpa sekat
Segenap kosmetik luntur menjadi kubangan
Air mata menbasuh segenap degil dengki dan melarungnya
Lalu kita diinisiasi oleh waktu
Dengan pedang kesatria diletakkan di bahu
Bermetamorfosa menjadi kupu-kupu
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
PESAWAT
Kopiku gemetar Bibir mengatup Seperti geram Membelah langit Lewat suara Lalu melesat Demi waktu Ia penuju Dibalik halimun Kopi ...
-
Daun terapung dan, jatuh di haribaan Menanggalkan warnanya dan, meninggalkan ranting yang merana Pada kering ia berlabuh Karena kenangan jel...
-
Nampaknya musim tak serta merta bergulir Ia meletakkan panasnya di bahu siang yang terik Dan malam-malam yang sumuk singgah di peraduan Ket...
-
Ku singkap embun di selasar Di balik daun seperti biasanya Dan pagi masih di timur Seperti kemarau yang telah lampau Burung masih memamerka...
Puisi ini sangat indah dengan simbolisme yang kuat tentang kepercayaan, keterbukaan, dan perubahan. Ada kesan mendalam dari harapan untuk hubungan yang tulus tanpa prasangka, serta transformasi diri melalui proses yang penuh perjuangan dan waktu.
BalasHapusGambaran tentang "telanjang aurat tanpa sekat" menunjukkan kejujuran dan keterbukaan sepenuhnya, sementara "air mata membasuh" memberi kesan penebusan dan pembersihan emosi negatif. Transformasi menjadi kupu-kupu adalah metafora yang kuat untuk perubahan setelah mengalami proses penyembuhan dan pemurnian.
Adakah makna khusus atau perasaan tertentu yang melatari puisi ini?