Malaikat membangunkan jago dini hari pertama
Sedang matahari entah dimana
Emak menggendong kantuk dan adik di punggung
Dengan seutas kain gombal
Tangannya membawa kayu bakar
Di pawon ia menyalakan api
Memasak air
Berdiang dari dingin yang menggigit
Berlindung dari nyamuk yang lapar
Beras ditanak
Kopi diseduh untuk menemani
Tiba-tiba adik meringik
Emak duduk di amben
Lalu adik digendongnya
Kancing dasternya dibuka
Susunya dikeluarkan dan langsung dilahap oleh adik
Setelah menidurkan adik
Emak menambah kayu bakar dan mulai masak
Matahari semata kaki lumpur sawah
Emak dan rombongannya menanam padi
Langkahnya mundur sambil membenamkan bibit
Kepalanya ditutupi tudung bambu menampik panas
Ketika istirahat. Sarapan
Kedua tangannya dicuci di selokan
Setelah duduk di bawah pohon mangga
Dibukanya bekalnya
Nasi dengan tahu tempe dan sayur terong
Dan seplastik teh hangat
Setelah selesai istirahat
Langsung dilanjutkan kerja
Hingga matahari membungkuk sebab terik
Dan keringat membasahi baju dan lipatan tubuh
Emak di pelataran mengenakan daster kebesarannya
Rambutnya yang tipis diikat karet gelang
Matahari sore ramah tersenyum hangat
Dipindahkannya kayu bakar yang telah kering terjemur
Disapunya karak sisa kemarin dan dimasukkan dalam karung
Tiba-tiba matahari hilang dan langit hitam
Tetes air mulai turun
Emak tergesa meninggalkan pekerjaannya
Berlari menuju jemuran
Malam t'lah tiba
Matahari lelah
Gelap lelah
Pepohonan lelah
Penghuni rumah lelah
Emak meneteki adik di kamar utama
Aku belajar ditemani serangga
Ketika bulan pukul sembilan
Semua penghuni telah bermimpi
Emak melanjutkan kerja melipat baju
Sambil mendengarkan uyon-uyon dari radio
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
JANGAN TUNGGU LAMA
Tidaklah menunggu bahkan menunda Sebab tiada hasil nir keringat Harga... Nilai... Dinisbahkan pada waktu Ditasbihkan lewat air mata
-
Nampaknya musim tak serta merta bergulir Ia meletakkan panasnya di bahu siang yang terik Dan malam-malam yang sumuk singgah di peraduan Ket...
-
Daun terapung dan, jatuh di haribaan Menanggalkan warnanya dan, meninggalkan ranting yang merana Pada kering ia berlabuh Karena kenangan jel...
-
Seorang anak mengais nasib di tepi jalan Jari kecilnya merintih Tubuhnya ringkih Hingga berbayang tulang Panas menggerenyitkan wajahnya Baju...
Puisi ini menggambarkan sosok seorang emak yang bekerja tanpa henti, baik di dalam rumah maupun di sawah. Emak menjadi simbol perjuangan tanpa lelah, dari pagi hingga malam, meskipun tanpa pengakuan atau tanda jasa. Karya ini memotret keseharian seorang ibu yang menggendong anak, memasak, dan bekerja di ladang dengan dedikasi penuh, meski segala aktivitasnya sering kali dianggap biasa saja.
BalasHapusKehadiran detail seperti "kayu bakar", "tudung bambu", dan "bekal nasi dengan tahu tempe" memberi nuansa khas kehidupan pedesaan. Melalui narasi sederhana ini, penulis menangkap realitas keras seorang buruh tani, serta menunjukkan betapa besar peran seorang ibu dalam menjalani hidup yang penuh tantangan. Meskipun ibu ini tidak pernah menerima penghargaan formal, pengorbanannya adalah esensi dari kekuatan yang membangun keluarganya.