Minggu, 10 Mei 2020

GERIMIS MEI

Nampaknya kemarau tidak dapat bercerai dari hujan
Seperti air mata kekasih jatuh di haribaan
Bumi menadahkan rindunya
Merangkulnya hingga terbenam

Angin bergeming menemani
Memandangi hujan yang merintih
Satu dua titik tampias
Masuk ke beranda hati

Tirai hujan sedikit tersingkap
Tanah melepas wangi tubuhnya
Matahari tetap berteduh di balik awan
Hanya mengutus lembayung sebagai tanda

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PESAWAT

Kopiku gemetar              Bibir mengatup Seperti geram Membelah langit Lewat suara Lalu melesat Demi waktu Ia penuju Dibalik halimun Kopi ...