Setiap yang bernyawa pasti mencicipi
Warisannya sebagai tolok ukur
Mewarnai alam pikiran atau salin musuh
Kematian hanya penggenapan usia
Pemberhentian sementara
Untuk nam solihan apatah siksa
Mengambil karcis surga atau neraka
Kopiku gemetar Bibir mengatup Seperti geram Membelah langit Lewat suara Lalu melesat Demi waktu Ia penuju Dibalik halimun Kopi ...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar