Tubuhnya meringkuk di dinding
Waktupun telah lupa warnanya
Terkadang ia menatap ruangan
Catnya kian pudar
Sawang coba membantunya tegak
Lukisan itu terasing sendiri
Tiada yang sengaja menolehnya
Cicak kawin pun enggan
Kopiku gemetar Bibir mengatup Seperti geram Membelah langit Lewat suara Lalu melesat Demi waktu Ia penuju Dibalik halimun Kopi ...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar