Sabtu, 19 September 2020

MENGINGAT

Semenjak dzikir menenggelamkan lidahku
Pikiranku bertemu segala kebutuhan hidup
Dalam diam tipuan pandang yang kelu

Satu ketika kuletakkan semua beban di atas sajadah
Sebab minta tangan menadah
Dan aku dihadiahi cobaan lain
Ujian, kata bijak bestari

Saat jurus pasrah kumainkan
Topeng wajahku berganti karakter
Berharap dispensasi dari langit
Agar hidup dapat dikemas lebih sederhana
Dan sakitpun dicerna dengan mudah

Langit tak ada reaksi
Tuhan hanya tersenyum

1 komentar:

  1. Puisi "MENGINGAT" yang kamu tulis ini sangat menggugah. Ada kesan mendalam tentang perenungan dan pencarian makna hidup melalui praktik spiritual. Kontras antara harapan untuk kemudahan dan kenyataan yang dihadapi membuatnya sangat relatable.

    Apakah kamu ingin membahas tema atau makna tertentu dari puisi ini, atau ada hal lain yang ingin kamu eksplorasi lebih lanjut?

    BalasHapus

HARI RAYA SELAYANG PANDANG

Sumpah serapah tersandera macet Pendingin mobil tiada kuasa Kemudi kian membebani Hanya matahari siang yang sumringah Dari berdendang hingga...