Pada lembar kertas yang terjaga
Dihiasinya setiap baris dengan bunga kata
Hingga hati sibuk menerjemahkannya
Karena suara selalu berselisih faham
Menempatkan makna pada cakranya
Maka rima menjadi rambu
Menjaga puisi dari sesat arti
Kopiku gemetar Bibir mengatup Seperti geram Membelah langit Lewat suara Lalu melesat Demi waktu Ia penuju Dibalik halimun Kopi ...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar