Ketika itu malam nyaris terakhir
Di timur fajar sidik
Hitam dan putihnya terburai
Kepalaku tengadah
Mencari madah
Tanganku terbuka
Menanti jawab
Pada detik selanjutnya
Suara-suara berdatangan
Dari kekosongan asali
Mengetuk sekadar takdir
Kopiku gemetar Bibir mengatup Seperti geram Membelah langit Lewat suara Lalu melesat Demi waktu Ia penuju Dibalik halimun Kopi ...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar