Lampunya menatap, pijar
Dicabiknya pelipis hingga dagu
Sejalur luka menyoren
Wajah jua berpaling
Di depan topeng teraling
Lalu diletakkannya wajah di atas nampan
Bagi kepala kosong adalah sebuah topeng
Dan tatapnya liar serta senyumnya seringai
Kita rebahkan lelah dengan seikat keluh kesah Tentang dunia yang senantiasa renta Hingga punggung pun mengaduh Menahan duka nestapa Sebenta...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar