Lalu ia duduk dan menatap kopiku
Hingga nyaris dingin dibuatnya
Kutanya padanya,
mengapa kau meniupnya?
Ia hanya diam
lalu mendatangi dedaunan
Bersamanya ia terbang menyerbuki sisa kopiku
Selamat kopi, pagi Pahitnya hanya sekadar rasa Di lidah ia menyecap, sekejap Lalu hilang bersama angin Dan ampas, merambat dari dasar cangk...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar