Strategi catur
Secangkir kopi sachet
Kepulan asap kretek filter
Menemani bincang kita
Kerumunan berbisik berisik
Berdebat berkomentar
Pertarungan kian berdarah-darah
Raja tersudut cangkir tersenggol
Lagu dangdut menghibur
Mengalun dari radio satu band
Lampu jalan terpekur
Malam terus merayap
Jumat, 08 Mei 2020
Kamis, 07 Mei 2020
TERJAGA
Aku jatuh terjerambab,
Bantal dan guling tak juga menggantikan
ditarik dari mimpi malam
Selimut perca jahitan bunda,
Selimut perca jahitan bunda,
tersungkur di kaki amben
Sebahagian mimpiku berkeping,
Sebahagian mimpiku berkeping,
berantakan mengotori kesadaran
Jam menunjuk pada kantuk,
Jam menunjuk pada kantuk,
karena malam hanya sepi
Gelap terusir oleh sinar lampu,
Gelap terusir oleh sinar lampu,
dan bersembunyi di rimbun daun
Mencuri sebagian mimpiku,
sehingga tidurku tidak pulas
Bantal dan guling tak juga menggantikan
Rabu, 06 Mei 2020
KAWAN
Sekadar jarak adalah jumlah pertemanan
Dipererat ketika menenggak,
Dipererat ketika menenggak,
mencuri menit yang terselip
Dibarter dengan kabar secuil
Pandang tak pernah bersinggungan
Dalam kopi kita percaya
Saling mereguk serupa bertandang
Membagi sama rata pada malam
Kita sesekali bertukar kangen
Kau datang mengendap
Sering kali tanpa tegur
Karena kabar bawa sinyalnya sendiri
Dibarter dengan kabar secuil
Pandang tak pernah bersinggungan
Dalam kopi kita percaya
Saling mereguk serupa bertandang
Membagi sama rata pada malam
Kita sesekali bertukar kangen
Kau datang mengendap
Sering kali tanpa tegur
Karena kabar bawa sinyalnya sendiri
Selasa, 05 Mei 2020
AKU DIANTARA 00.00 - 03.00
Diantara kerumunan malam yang mengepung
Aku mengintai kantuk
Menyamar sebagai lampu
Di setengah cangkir kopi tubruk
Sedangkan pikiran membawanya berkeliaran
Melompati tuts laptop dan kedip kursor
Kadang nyamuk menaruh di kulit
Dan serangga malam merajut cahaya
Lagu ditebar di sekujur kamar, suaranya lirih
Seperti mantra berima memanggil nini towok
Lalu doa rebah di atas kasur
Menemani kantuk agar tidak sepi
Melewati kokok ayam jantan pertama
Hingga bersua dengan mimpi
Aku mengintai kantuk
Menyamar sebagai lampu
Di setengah cangkir kopi tubruk
Sedangkan pikiran membawanya berkeliaran
Melompati tuts laptop dan kedip kursor
Kadang nyamuk menaruh di kulit
Dan serangga malam merajut cahaya
Lagu ditebar di sekujur kamar, suaranya lirih
Seperti mantra berima memanggil nini towok
Berulang dan monoton
Lalu doa rebah di atas kasur
Menemani kantuk agar tidak sepi
Melewati kokok ayam jantan pertama
Hingga bersua dengan mimpi
Minggu, 03 Mei 2020
MENGAPA CINTA MENJADI SEDEMIKIAN BURUK
Kata diasah hingga ujungnya tajam berkilat
Dengan sedikit cemburu sebagai pelumas
Kita saling menghujamkannya ke sekujur cinta
Birahi nyatanya berwarna pelangi
Dengan satu kata berbiak menjadi ribuan puja puji
Dan hati dipenuhi bahagia yang lebih ringan dari halusinasi
Seperti cerita, cinta menciptakan plotnya sendiri
Dijejalinya rayu dipenuhinya intrik
Rindu dendam pun luka hingga logika mati
Ketika kian intens mengoyak dengan tajam lidah
Kedua tangan memeluk kian erat hingga sesak nafas
Sebab cinta memang tentang memiliki dan menguasai
Sabtu, 02 Mei 2020
SEKOLAH
Sebagaimana bernaungnya segala kesakralan
Dimana langit dijunjung
Jiwa disucikan dalam kawah pegetahuan
Dimurnikan oleh asuhan dan pengawasan
Usia diabdikan pada keingintahuan
Menyerap kebijakan dan kebajikan
Ketika cantrik kembali membumi
Langkah pertamanya adalah ragu
Memilih kiri atau kanan
Sebab tidak diajarkan mengambil keputusan
Sewaktu seluruh tubuh dan hatinya telah dipenuhi luka
Disadarinya sekolah terbaik adalah hidup itu sendiri
Dimana langit dijunjung
Jiwa disucikan dalam kawah pegetahuan
Dimurnikan oleh asuhan dan pengawasan
Usia diabdikan pada keingintahuan
Menyerap kebijakan dan kebajikan
Ketika cantrik kembali membumi
Langkah pertamanya adalah ragu
Memilih kiri atau kanan
Sebab tidak diajarkan mengambil keputusan
Sewaktu seluruh tubuh dan hatinya telah dipenuhi luka
Disadarinya sekolah terbaik adalah hidup itu sendiri
Jumat, 01 Mei 2020
BURUH TANPA TANDA JASA (ii)
Malaikat membangunkan jago dini hari pertama
Sedang matahari entah dimana
Emak menggendong kantuk dan adik di punggung
Dengan seutas kain gombal
Tangannya membawa kayu bakar
Di pawon ia menyalakan api
Memasak air
Berdiang dari dingin yang menggigit
Berlindung dari nyamuk yang lapar
Beras ditanak
Kopi diseduh untuk menemani
Tiba-tiba adik meringik
Emak duduk di amben
Lalu adik digendongnya
Kancing dasternya dibuka
Susunya dikeluarkan dan langsung dilahap oleh adik
Setelah menidurkan adik
Emak menambah kayu bakar dan mulai masak
Matahari semata kaki lumpur sawah
Emak dan rombongannya menanam padi
Langkahnya mundur sambil membenamkan bibit
Kepalanya ditutupi tudung bambu menampik panas
Ketika istirahat. Sarapan
Kedua tangannya dicuci di selokan
Setelah duduk di bawah pohon mangga
Dibukanya bekalnya
Nasi dengan tahu tempe dan sayur terong
Dan seplastik teh hangat
Setelah selesai istirahat
Langsung dilanjutkan kerja
Hingga matahari membungkuk sebab terik
Dan keringat membasahi baju dan lipatan tubuh
Emak di pelataran mengenakan daster kebesarannya
Rambutnya yang tipis diikat karet gelang
Matahari sore ramah tersenyum hangat
Dipindahkannya kayu bakar yang telah kering terjemur
Disapunya karak sisa kemarin dan dimasukkan dalam karung
Tiba-tiba matahari hilang dan langit hitam
Tetes air mulai turun
Emak tergesa meninggalkan pekerjaannya
Berlari menuju jemuran
Malam t'lah tiba
Matahari lelah
Gelap lelah
Pepohonan lelah
Penghuni rumah lelah
Emak meneteki adik di kamar utama
Aku belajar ditemani serangga
Ketika bulan pukul sembilan
Semua penghuni telah bermimpi
Emak melanjutkan kerja melipat baju
Sambil mendengarkan uyon-uyon dari radio
Sedang matahari entah dimana
Emak menggendong kantuk dan adik di punggung
Dengan seutas kain gombal
Tangannya membawa kayu bakar
Di pawon ia menyalakan api
Memasak air
Berdiang dari dingin yang menggigit
Berlindung dari nyamuk yang lapar
Beras ditanak
Kopi diseduh untuk menemani
Tiba-tiba adik meringik
Emak duduk di amben
Lalu adik digendongnya
Kancing dasternya dibuka
Susunya dikeluarkan dan langsung dilahap oleh adik
Setelah menidurkan adik
Emak menambah kayu bakar dan mulai masak
Matahari semata kaki lumpur sawah
Emak dan rombongannya menanam padi
Langkahnya mundur sambil membenamkan bibit
Kepalanya ditutupi tudung bambu menampik panas
Ketika istirahat. Sarapan
Kedua tangannya dicuci di selokan
Setelah duduk di bawah pohon mangga
Dibukanya bekalnya
Nasi dengan tahu tempe dan sayur terong
Dan seplastik teh hangat
Setelah selesai istirahat
Langsung dilanjutkan kerja
Hingga matahari membungkuk sebab terik
Dan keringat membasahi baju dan lipatan tubuh
Emak di pelataran mengenakan daster kebesarannya
Rambutnya yang tipis diikat karet gelang
Matahari sore ramah tersenyum hangat
Dipindahkannya kayu bakar yang telah kering terjemur
Disapunya karak sisa kemarin dan dimasukkan dalam karung
Tiba-tiba matahari hilang dan langit hitam
Tetes air mulai turun
Emak tergesa meninggalkan pekerjaannya
Berlari menuju jemuran
Malam t'lah tiba
Matahari lelah
Gelap lelah
Pepohonan lelah
Penghuni rumah lelah
Emak meneteki adik di kamar utama
Aku belajar ditemani serangga
Ketika bulan pukul sembilan
Semua penghuni telah bermimpi
Emak melanjutkan kerja melipat baju
Sambil mendengarkan uyon-uyon dari radio
Langganan:
Postingan (Atom)
KEBAKARAN
Hutan terbakar; itupun jika disebut hutan Api berkobar karena salah kemarau Dan dosa angin yang meniup hingga tetangga Tiada ada dosa puntun...
-
Daun terapung dan, jatuh di haribaan Menanggalkan warnanya dan, meninggalkan ranting yang merana Pada kering ia berlabuh Karena kenangan jel...
-
Nampaknya musim tak serta merta bergulir Ia meletakkan panasnya di bahu siang yang terik Dan malam-malam yang sumuk singgah di peraduan Ket...
-
Ku singkap embun di selasar Di balik daun seperti biasanya Dan pagi masih di timur Seperti kemarau yang telah lampau Burung masih memamerka...