Kamis, 11 Juni 2020

TERKEJUT YANG INDAH

Dan kepulan bahagia di linting
Bilik terdiam mulutnya terkunci
Aku mencoba mewarnai mimpi
Dalam pikiran yang sunyi

Ruang dan waktu tumpang tindih
Ditimpali oleh lengkingan musik
Dalam asap kita mengusik merenung
Tiba-tiba pintu gemetar diketuk

Bangun khayal pecah berkeping
Berserakan di lantai dan dinding
Kesadaran terhenyak di sudut pikir
Sedikit bingung menatap sekeliling

Senin, 08 Juni 2020

LEBIH DARI SEKADAR PERASAAN

Simpan saja tangis itu
Hanya merusak riasan hatimu
Mengotori jendela mata dengan bara merah
Padahal setiap liang dosa yang dikandung
Telah kuberi porsekot agar tunai menjadi milik

Sudahlah akhiri isak menghujat itu
Mencekik kerongkongan dengan serapah
Sebab benih yang ditanam telah meruyak
Sulurnya mengepung birahi kita
Dan menanamkannya di rahimmu, adik

Usaplah air mata dengan kain dukana
Keringkan hingga bola mata bergaris kecewa
Palingkan saja segala tuduh dan hujah
Benamkan semua pada kelakianku
Sebab kita dikutuk sedarah

Jumat, 05 Juni 2020

RITUAL

Kepalanya tertunduk
Mata tajam menatap
Tangan lincah memilah
Biji diceraikan dari racikan
Batang dijejalkan ke dalam gelas

Lampu sendu temaram
Pemutar kaset melantunkan blues

Kertas rokok berbaring
Bibirnya diletakkan filter
Remahan kering ditabur
Perlahan jemari menari
Sebatang rokok dijepit dua jari

Lampu berkedip suram
Lagu berulang. Monoton dan kelam

Korek menyala mimpi dibakar
Dihisapnya sensasi dalam-dalam
Diendapkan waktu dalam paru-paru
Asap ditiup ke udara ditemani batuk
Baunya memadati ruang

Cahaya mulai berpendar
Suara meliuk indah

Punggung menghempaskan beban ke tembok
Hijab terangkat dari mata hati
Setiap gerak kian lamban
Pikiran dipenuhi fragmen monolog
Bibir kering dan haus

Cahaya memeluk asap
Sayup lagu menyusup

Segala yang dipandang memiliki nuansa
Setiap yang didengar berlipat indah
Semua yang diam gemuruh di hati
Sedangkan lapar dan haus serupa kakang kawah adi ari-ari
Seakan waktu berhenti dan ruang memuai

Kamis, 04 Juni 2020

DAUN

Seorang tetua mengambil calumet
Ujungnya dihias bulu, taring dan benang kulit
Hati-hati memasukkan rami, tembakau dan rempah ke lubangnya
Lalu mengambil bara dari perapian dan menyulutnya

Pipa perdamaian dihisap dalam-dalam
Asapnya memenuhi paru-paru
Lalu ditiup ke atas sebagai penghormatan bagi Manitou
Ditiup ke bawah sebagai penghargaan bagi ibu bumi
Ke empat penjuru mata angin tanda perdamaian dan persaudaraan

Pipa digilir diberikan ke sebelahnya. Ke kanan
Berlawanan dengan jarum jam
Orang itu melakukan hal yang sama dengan tetua
Menghisap dalam-dalam dan menghembuskannya
Ke langit, bumi, dan empat mata angin

Demikian seterusnya
Semua orang dalam lingkaran melakukan hal yang sama
Hingga pipa kembali ke asal. Ke awal

Semua warna, merah, putih, kuning, hitam bersatu dalam ikatan
Merubungi api unggun dan kehangatan
Berkumpul dan bersaudara
Diam dalam hening yang sakral
Menikmati suasana psikedelik yang damai

4.20

Mariyuana adalah kepentingan
Ada pertengkaran diantaranya
Menjadi saksi sejarah budaya

Hukum adalah pemisah
Hitam dan putih
Kelabu hanya berdesir di hati

Mariyuana adalah obyek
Gerbang eksplorasi matra psikedelik
Disamarkan oleh cerita burung

Hukum adalah pelabelan
Membenamkan dan mengangkat
Bilakah mariyuana berubah hukum? 

Selasa, 02 Juni 2020

EKOR MERAH

Burung itu menyanyi pagi
Dahan dan ranting dicengkramnya kering
Cakarnya mengais tajam seperti menari

Daun kuyup hujan semalam
Ekor burung tegak serupa bulu di kepala suku
Warnanya cantik tersaput merah

Burung mengepak sayap ringkihnya
Menyusuri arus angin kembara
Terbang membawa warnanya

Senin, 01 Juni 2020

HANYA TUKANG

Ketika puisi dibuat
Susunannya terukur
Kata dipilih dan dipilah
Diambil dari perbendaharaan
Dipadupadankan tata letak dan bunyinya
Simetris dan geometris
Enak dipandang dan perlu
Seperti mebel buatan tangan yang indah

Ketika puisi disentuh hati
Permukaannya kasar
Warnanya kelupas
Bahannya kodian
Kasat mata tiada pendar
Pedalamannya rapuh
Tanpa makna hanya etalase
Sebab seni hanya sebatas mengulang
Serupa produk masal sekali pakai
Sampah.... 
Sebab aku hanya tukang

AGUSTUS KE DELAPAN SATU

Podium hanyalah ruang caci maki Dan mimpi besar kemakmuran Adalah oligarki beserta kroni Ku reguk kopi pagi Terasa pahitnya hari Dikunyah de...