Selasa, 23 Juni 2020

RUMAH KOS

Rumah kos dikelilingi sepi 
Saat itu siang milik matahari
Kehidupan bersama tikus, berlari
Dan taman kecil yang sembunyi

Matahari lebih barat dari pohon mangga
Seperti mulut keramba, gerbang terbuka
Motor dan penumpang terpenjara
Diparkir sejajar lelah dan masuki kamar

Sebahagian mencari sore. Mencari makan
Sinar lampu menerobos kaca jendela
Sebahagian meletakkan capai lelah
Setelah mandi dan melepas pakaian

Malam cahaya berkumpul di lorong
Kamar berdegup dan mendengkur
Di dalamnya mimpi mendongeng
Baunya seperti obat nyamuk 

Sabtu, 20 Juni 2020

BUKU

Sebuah buku tergeletak di meja kecil
Tubuhnya terpapar sinar lampu duduk
Sampulnya berwarna dan berkilau
Sehingga judulnya terhalang silau

Di halaman pertama dimana nama tergores
Kertasnya putih berbau lem dan kisah
Ada noktah kering menempel
Dan tanda tangan yang sedikit luntur

Pembatas berbentuk secarik gambar
Ujungnya dilubangi dan diberi pita emas
Cantik sebagai pengingat lupa
Terselip di ketiak kalimat

Sampul belakang serupa lumbung setelah panen
Seluruh isi dipadatkan menjadi paragraf pamungkas
Jawaban segenap halaman yang ditulis
Sebagai penanda akhir buku

Jumat, 19 Juni 2020

OBAT

Diminumnya obat setiap pagi dan sore
Agar dunia memandang ramah padanya
Dan sisanya yang senja hilang serta dalam damai

Diminumnya obat setiap pagi dan sore
Tanda masih ada hidup
Dan tunas tumbuh di bawah alam sadar

Diminumnya obat setiap pagi dan sore
Caranya meletakkan dunia dalam pangkuan
Dengan demikianlah dia melanjutkan hari

Diminumnya obat setiap pagi dan sore
Sebagai ritual penebusan
Sebagai tanda cintanya

KOTAKU

Kotaku beserta pagi
Riuh di terik matahari
Dari tiap gang yang sempit
Motor mengalir menganak sungai
Pelajar berhamburan berhimpit
Seperti belalang menyerbu padi

Kotaku beranjak siang
Debu terbang di atas tiang
Gedung tunduk mengantuk
Semangat hangus tersapu
Sepiring nasi segelas air
Sebatang rokok secangkir kopi

Kotaku kembali malam
Lampu saling berkedip temaram
Emperan berebut pejalan dan penjual
Toko berwarna kian semarak
Denyut nadinya di antara kedai
Dan malam yang kian sepi

Rabu, 17 Juni 2020

DI TITIK PERTEMUAN

Menjelang senja di alun-alun kota 
Cinta berserakan berpasangan

Sepasang kekasih duduk menatap lalu lalang
Mulutnya sibuk mengunyah jajanan

Serombongan remaja berjalan riang
Dengan warna warni cinta yang ceria

Berceloteh sesama dan melirik tebar pesona
Ada bau kencur tertinggal oleh birahi

Pedagang es putar dikelilingi keluarga muda
Anaknya digendong menunjuk dan merengek

Ayah memesan dua gelas es rasa duren
Ibu duduk dan membuka baju. Menyusui

Duduk teraling sulur beringin sungsang
Seorang gadis tertawa renyah pipinya dicolek

Tukang mainan berdiri menanti pembeli
Anak kecil menarik rok ibunya, mengajuk

Di bangku beton, sendiri, diam dan khusyu
Matanya nanar menatap layar berkedip

Di seberang jalan raya pemisah alun-alun
Pengeras Masjid Agung kabupaten berteriak

Memanggil para pendosa untuk sekedar bersimpuh
Melepas sejenak lesu lelah hari yang berdebu

Selasa, 16 Juni 2020

MENANTI PAGI

Aku di dalam kamar. Sendiri
Menatap foto pernikahan
Di sisi tembok retak

Bingkainya miring
Diterjang cicak birahi
Benangnya nyaris lepas dari paku

Sinar lampu menyentuh
Debu dan sawang menumpuk
Gambar wajahku tersenyum

Di luar, pengeras suara berebut masa
Berteriak bersahutan di udara pagi
Mengajak, mengajuk, merayu, memaksa

Kantuk kusingkirkan sejenak
Pujian memenuhi ruang dengar
Aku berdiri mencoba komunikasi langit

Setelah salam terakhir
Tanpa puja puji doa japa mantra
Kutempati sudut sarang tidur

Lagu blues diputar perlahan
Mengusap mata membelai hati
Aku terlelap merenda mimpi

Minggu, 14 Juni 2020

BACALAH LEBIH SEKSAMA

Kau bersilangan dengar pendapatku
Sedangkan tulisan tiada tuntas dimamah
Titik belum terjangkau nalar
Namun penamu merusak anyaman

Dengan jumawa ekor merakmu dikibas
Warnanya semburat prestasi 
Gradasi berbagai pencapaian
Hukum yang menentukan hitam putih

Sebab kata tanpa dualisme makna
Mengapa harus disunat
Apalagi dengan pisau bernama prestasi
Sungguh hanya Gusti yang berhak sombong

AGUSTUS KE DELAPAN SATU

Podium hanyalah ruang caci maki Dan mimpi besar kemakmuran Adalah oligarki beserta kroni Ku reguk kopi pagi Terasa pahitnya hari Dikunyah de...