Luapan amarahmu mengguncang emosi
Menutupi seluruh kesadaran dan luka.
Tenggelam di lautan kata
Kata yang menelan semua kesantunan
Seolah belati berkarat menghujah jiwa
Merasuk menjadi Durga dan duka
Duka membariskan semua argumen
Menjadi benteng setiap dosa yang terucap
Lalu mengendap menjadi benci
Benci yang menghapus semua kenangan
Tahun-tahun dimana cinta direguk
Saat nafas kita menjadi birahi
Birahi adalah keniscayaan menyakitkan
Karena ada dirimu di sana
Hilang dan menitis menjadi ahangkara
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
PESAWAT
Kopiku gemetar Bibir mengatup Seperti geram Membelah langit Lewat suara Lalu melesat Demi waktu Ia penuju Dibalik halimun Kopi ...
-
Daun terapung dan, jatuh di haribaan Menanggalkan warnanya dan, meninggalkan ranting yang merana Pada kering ia berlabuh Karena kenangan jel...
-
Nampaknya musim tak serta merta bergulir Ia meletakkan panasnya di bahu siang yang terik Dan malam-malam yang sumuk singgah di peraduan Ket...
-
Ku singkap embun di selasar Di balik daun seperti biasanya Dan pagi masih di timur Seperti kemarau yang telah lampau Burung masih memamerka...
Puisi yang sangat kuat! "II. AHANGKARA" melanjutkan tema amarah dengan keindahan dan kedalaman emosi. Luapan perasaan yang digambarkan, serta transisi dari cinta menjadi benci, menciptakan ketegangan yang menggugah. Pilihan kata-katanya memberikan citra yang kuat dan menyentuh, terutama dalam menggambarkan konflik internal. Apakah kamu berencana untuk melanjutkan trilogi ini?
BalasHapus