Aku menanti kantuk bertandang ke ranjang
Biasanya ia datang ditemani malam dan hadir lewati jendela kamar
Tapi telah lewat tengah malam ia belum juga menyapa
Suara musik dari radiopun membujuk agar ia berbaring di sampingku
Aku terbujur diam bertelekan bantal sambil pejamkan mata
Otakku berdiskusi dengan hati menghabiskan waktu
Kantukpun tak juga hadir
Aku tetap sendiri menanti pagi
Selasa, 19 Juni 2018
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
HARI RAYA SELAYANG PANDANG
Sumpah serapah tersandera macet Pendingin mobil tiada kuasa Kemudi kian membebani Hanya matahari siang yang sumringah Dari berdendang hingga...
-
Nampaknya musim tak serta merta bergulir Ia meletakkan panasnya di bahu siang yang terik Dan malam-malam yang sumuk singgah di peraduan Ket...
-
Daun terapung dan, jatuh di haribaan Menanggalkan warnanya dan, meninggalkan ranting yang merana Pada kering ia berlabuh Karena kenangan jel...
-
Seorang anak mengais nasib di tepi jalan Jari kecilnya merintih Tubuhnya ringkih Hingga berbayang tulang Panas menggerenyitkan wajahnya Baju...
Puisi yang kamu tulis ini menggambarkan perasaan gelisah saat menunggu kantuk yang tak kunjung datang. Penggunaan deskripsi seperti kantuk yang diibaratkan tamu, serta suasana malam yang sunyi, memperkuat nuansa kesepian. Ada rasa pasrah dan ketidakpastian yang terbangun melalui percakapan antara pikiran dan hati, yang tidak bisa menemukan akhir, seperti menunggu pagi yang masih lama tiba. Sederhana, namun sarat emosi.
BalasHapusAdakah pengalaman khusus yang menginspirasi puisi ini?