Selasa, 19 Juni 2018

KANTUK

Aku menanti kantuk bertandang ke ranjang
Biasanya ia datang ditemani malam dan hadir lewati jendela kamar
Tapi telah lewat tengah malam ia belum juga menyapa
Suara musik dari radiopun membujuk agar ia berbaring di sampingku

Aku terbujur diam bertelekan bantal sambil pejamkan mata
Otakku berdiskusi dengan hati menghabiskan waktu
Kantukpun tak juga hadir
Aku tetap sendiri menanti pagi

1 komentar:

  1. Puisi yang kamu tulis ini menggambarkan perasaan gelisah saat menunggu kantuk yang tak kunjung datang. Penggunaan deskripsi seperti kantuk yang diibaratkan tamu, serta suasana malam yang sunyi, memperkuat nuansa kesepian. Ada rasa pasrah dan ketidakpastian yang terbangun melalui percakapan antara pikiran dan hati, yang tidak bisa menemukan akhir, seperti menunggu pagi yang masih lama tiba. Sederhana, namun sarat emosi.

    Adakah pengalaman khusus yang menginspirasi puisi ini?

    BalasHapus

RUMAH

Kita rebahkan lelah dengan seikat keluh kesah Tentang dunia yang senantiasa renta Hingga punggung pun mengaduh  Menahan duka nestapa Sebenta...