Mevrouw,
Kau ajar tiap lapar mata dengan ilmu
Menanam tanya di ukir jiwa suci
Lidahmu tajam sembilu kata
Letakkan jujur pada goresan pena
Menutur peradaban dahaga pribumi
Pandanganmu balas budi tanam paksa
Politik etik ras terhadap hutang kemakmuran
Pengusung bebas kerakyatan berdikari
Wajahmu totok bertotol musim khatulistiwa
Hati condong pada kawula
Dengan keringat menyeka gerah kemarau
Cakrawala kau bentang di bumi manusia
Mata gelisah curiga kolonial
Tetap biru pada tekad
Guru adalah predikatmu
Politik cara hidupmu
Deportasi tulisan nasibmu
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
JANGAN TUNGGU LAMA
Tidaklah menunggu bahkan menunda Sebab tiada hasil nir keringat Harga... Nilai... Dinisbahkan pada waktu Ditasbihkan lewat air mata
-
Nampaknya musim tak serta merta bergulir Ia meletakkan panasnya di bahu siang yang terik Dan malam-malam yang sumuk singgah di peraduan Ket...
-
Daun terapung dan, jatuh di haribaan Menanggalkan warnanya dan, meninggalkan ranting yang merana Pada kering ia berlabuh Karena kenangan jel...
-
Seorang anak mengais nasib di tepi jalan Jari kecilnya merintih Tubuhnya ringkih Hingga berbayang tulang Panas menggerenyitkan wajahnya Baju...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar