Tatap mata kalian heran tawarkan selidik
Memandang pribumi, Jawa, mengunyah kikuk
Sebelah kaki menginjak budaya adiluhung
Sebelah yang lain mengecap pengetahuan modern
Kalian wakil peradaban maju
di bumi pribumi bermakna feodal
Alumni tengil memplonco adik kelas lugu ragu
Kalian benamkan semua harap pembaharuan
di kepala bertudung blangkon penuh tanya
Kalian ejek peruntunganku nan gemilang nun di depan
Kalian cemooh hidupku dengan istri dan selir
Juga kuasa yang menindas kawula alit
Kalian kata pribumi bangsawan wajib terima garwa
Berdarah murni eropa atau indo
Agar tidak semena-mena pada wanita dan ibu
Kalian tertawa lepas nampak geligi
Tanpa tabu mengungkung
Kita bersanding di bangku taman
Aku memeluk diam yang menggigil didera patuh
Kalian terus mencecar dan mendobrak perisai akalku
Kalian laksana jembatan peradaban
Menjejalkan pokok pikir
menyandera ketidaktahuan ku yang papa
Mengerut jiwa mencoba bebas beban pencerahan
Sar, kabarmu putus oleh jumlah rotasi mentari
Semoga peruntungan tetap memihak persahabatan kita
Mir, demi anak kau beri durjana dosa birahi di pangkuanku
Kita seperti binatang menoleh dari sibuk suamimu
Ketika kau kandung buah hatimu sayang
Aku hanya termangu menatap perutmu buncit
Aku yakin buah itu tidak kau petik dari diriku
Sebab aku mandul, Mir
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
JANGAN TUNGGU LAMA
Tidaklah menunggu bahkan menunda Sebab tiada hasil nir keringat Harga... Nilai... Dinisbahkan pada waktu Ditasbihkan lewat air mata
-
Nampaknya musim tak serta merta bergulir Ia meletakkan panasnya di bahu siang yang terik Dan malam-malam yang sumuk singgah di peraduan Ket...
-
Daun terapung dan, jatuh di haribaan Menanggalkan warnanya dan, meninggalkan ranting yang merana Pada kering ia berlabuh Karena kenangan jel...
-
Seorang anak mengais nasib di tepi jalan Jari kecilnya merintih Tubuhnya ringkih Hingga berbayang tulang Panas menggerenyitkan wajahnya Baju...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar