Jiwa kembara jiwa tersesat
Melayang antara fana dan baka
Melintasi padang perburuan abadi
Membawa tiga sesal duka
Dosa dan pahala yang ditimbang
Syafaat yang ditetapkan
Mataair air mata duka abadi
Penantian dalam genangan keringat
Genapi 50000 tahun
Barisan telah jelas pengibar benderanya
Timbangan telah condong ke kanan
Catatan tiada selingkuh di belakang
Jembatan pemutus direntangkan
Penduduk langit dan lembah api hitam telah tetap
Domba berbulu kematian telah dikurbankan
Setiap jiwa menempati qodarNya.
Abadi.
(Hai, nafsu yang tenang
Kembalilah pada Tuhanmu dengan ridlo
Masuklah ke dalam golongan hamba Ku
Masuklah ke dalam surga Ku)
Kamis, 31 Januari 2019
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
PESAWAT
Kopiku gemetar Bibir mengatup Seperti geram Membelah langit Lewat suara Lalu melesat Demi waktu Ia penuju Dibalik halimun Kopi ...
-
Daun terapung dan, jatuh di haribaan Menanggalkan warnanya dan, meninggalkan ranting yang merana Pada kering ia berlabuh Karena kenangan jel...
-
Nampaknya musim tak serta merta bergulir Ia meletakkan panasnya di bahu siang yang terik Dan malam-malam yang sumuk singgah di peraduan Ket...
-
Ku singkap embun di selasar Di balik daun seperti biasanya Dan pagi masih di timur Seperti kemarau yang telah lampau Burung masih memamerka...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar