Seperti dihempas getir
Segenap terhadang tabir
Langkah terhenyak di ujung tubir
Selekas dahaga rindu tersedak
Setiap kata menjadi kepak
Malam sungguh menjaring
Sekejap sua tanggalkan bulu
Setumpuk bukupun seteru
Leher terantai ragu hingga bisu
Setelah senja mengundang pulang
Semua sedih menjadi kungkung
Sekedar sayap patah yang berjuang
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
JANGAN TUNGGU LAMA
Tidaklah menunggu bahkan menunda Sebab tiada hasil nir keringat Harga... Nilai... Dinisbahkan pada waktu Ditasbihkan lewat air mata
-
Nampaknya musim tak serta merta bergulir Ia meletakkan panasnya di bahu siang yang terik Dan malam-malam yang sumuk singgah di peraduan Ket...
-
Daun terapung dan, jatuh di haribaan Menanggalkan warnanya dan, meninggalkan ranting yang merana Pada kering ia berlabuh Karena kenangan jel...
-
Seorang anak mengais nasib di tepi jalan Jari kecilnya merintih Tubuhnya ringkih Hingga berbayang tulang Panas menggerenyitkan wajahnya Baju...
Puisi SAYAP PATAH ini terasa sangat menyentuh dengan nuansa kepedihan dan ketidakpastian yang mendalam. Perpaduan antara metafora "sayap patah" dan suasana getir menciptakan gambaran kuat tentang seseorang yang sedang menghadapi kesulitan dan keraguan, mungkin dalam perjuangan atau perjalanan hidup.
BalasHapusSetiap bait memiliki alur yang membawa pembaca mendalami suasana melankolis, dari rindu yang tak terjawab, hingga perjuangan yang terasa sia-sia. Penggunaan kata-kata seperti "tubir", "kepak", dan "leher terantai ragu" memberikan kesan visual yang penuh emosi, seolah-olah sang tokoh terjebak dalam kekangan yang berat namun terus berusaha.
Bagian penutup yang menyebutkan "sayap patah yang berjuang" mengisyaratkan ada kekuatan tersembunyi meski dalam keterpurukan, membuat puisi ini bukan hanya tentang keputusasaan, tetapi juga tentang harapan untuk bangkit kembali meski dengan segala keterbatasan.
Apakah ada latar belakang khusus yang menginspirasi penulisan puisi ini?