Seharusnya tak perlulah semalas kedip gerhana
Dalam jarak terhingga kau tuntaskan hitungan
Mengapa setiba di pelataran rumah,
kau hanya berdiam di ujung daun temani embun
Padahal sendi yang kaku sebab usia butuh hangat serimu
Dan kantuk bercinta tanpa aling bulu roma
Sedang geliat pagi mencari gairah pancarmu
Burung-burung merayu dengan kicau birahinya
Jika kau tetap enggan menyapa sebab tersandera
Tegurlah mendung agar ikhlas iringi awan
Peluklah gelapnya dengan helai cahaya yang manis
Ucapkanlah mantera penunduk agar awan beralih menaungi kering
Jika tiada aling antara wajahmu dan ibu bumi
Sapalah segenap kehidupan yang masih bergelung
Belailah wajah rindu dengan hangat warna emasmu
Hingga alam dilingkupi senyum damai
Jika embun telah berubah sebagai kupu-kupu
Dan dedaunan telah hijau sebab bahagia
Tiadalah kau tarik segenap wajahmu benderang
Sebab awan pasti menyingkir karena malu
Panasilah setiap yang melata dengan gairah
Hingga harapan dapat terjangkau sejauh genggam
Dan rejeki terhampar sepanjang janji mencari
Karena itu, turunlah sinar mentari
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
JANGAN TUNGGU LAMA
Tidaklah menunggu bahkan menunda Sebab tiada hasil nir keringat Harga... Nilai... Dinisbahkan pada waktu Ditasbihkan lewat air mata
-
Nampaknya musim tak serta merta bergulir Ia meletakkan panasnya di bahu siang yang terik Dan malam-malam yang sumuk singgah di peraduan Ket...
-
Daun terapung dan, jatuh di haribaan Menanggalkan warnanya dan, meninggalkan ranting yang merana Pada kering ia berlabuh Karena kenangan jel...
-
Seorang anak mengais nasib di tepi jalan Jari kecilnya merintih Tubuhnya ringkih Hingga berbayang tulang Panas menggerenyitkan wajahnya Baju...
Puisi ini menyampaikan harapan yang mendalam pada sinar mentari agar turun dan membawa kehangatan bagi bumi dan kehidupan. Ada kesan simbolis dari sinar matahari sebagai pemberi kehidupan, yang diharapkan mampu menyingkirkan mendung dan membawa harapan serta kebahagiaan. Kiasan seperti "sendi yang kaku sebab usia butuh hangat serimu" mencerminkan kerinduan akan kehangatan yang dapat menghidupkan kembali semangat yang memudar. Gaya bahasa yang puitis dan metaforis menghidupkan gambaran alam, mulai dari embun, daun, hingga burung, yang semuanya merindukan pancaran sinar matahari.
BalasHapusBagaimana perasaanmu saat menulis puisi ini?