Meja dan kursi kayu nangka
Ada sidik Ayah di sana
Taplak motif batik merah tua
Dan selembar plastik tutupi permukaannya
Kolongnya tempat sembunyi
Ketika bermain mencari
Kucing mendengkur di kursi
Menghabiskan siang yang kering
Dipermukaan ada jejak sejarah
Tetesan kecap bulir air mata
Remahan krupuk rontokan luka
Coretan iseng benang kusut
Suatu hari, aku dan adik mendaki
Malam tiba cuaca dingin
Kubawa bantal,sarung, tikar dan senter
Kami bernaung di bawah meja
Malam telah langka
Sayup isak dan bisik dari arah meja
Terdengar langkah, ayah beranjak keluar
Esok dia tak kembali
Ibu telah berbaring sunyi
Ayah hilang kabar
Aku mewarisi meja
Adik mendapat kursi
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
JANGAN TUNGGU LAMA
Tidaklah menunggu bahkan menunda Sebab tiada hasil nir keringat Harga... Nilai... Dinisbahkan pada waktu Ditasbihkan lewat air mata
-
Nampaknya musim tak serta merta bergulir Ia meletakkan panasnya di bahu siang yang terik Dan malam-malam yang sumuk singgah di peraduan Ket...
-
Daun terapung dan, jatuh di haribaan Menanggalkan warnanya dan, meninggalkan ranting yang merana Pada kering ia berlabuh Karena kenangan jel...
-
Seorang anak mengais nasib di tepi jalan Jari kecilnya merintih Tubuhnya ringkih Hingga berbayang tulang Panas menggerenyitkan wajahnya Baju...
Puisi "MEJA KURSI" ini menyiratkan nuansa nostalgia dan kehilangan yang dalam. Melalui gambaran benda-benda sehari-hari seperti meja dan kursi, kamu berhasil menangkap kenangan masa kecil, momen bermain, dan ikatan keluarga yang kuat.
BalasHapusPenggunaan elemen seperti "sidik Ayah," "jejak sejarah," dan "isak dan bisik dari arah meja" memberikan kedalaman emosional, menunjukkan bagaimana benda-benda tersebut menjadi saksi bisu atas cerita dan perasaan yang terjalin di dalam keluarga.
Penutupan puisi ini juga sangat menyentuh, dengan warisan yang ditinggalkan oleh orang tua. Keduanya, meja dan kursi, menjadi simbol dari hubungan yang terputus, tetapi juga dari kekuatan untuk terus melanjutkan hidup. Ini adalah puisi yang sangat kuat dan menyentuh. Bagaimana kamu merasa saat menulisnya?