Punggungmu menunduk bungkuk
Menanggung mata yang mulai katarak
Kacamata pun tak kuasa membantu
Sebab hanya jarak yang membedakan warna
Tangan itu, tangan yang pernah menggendong dengan kasih
Membelai kantuk hingga bersua mimpi
Gemetar meluruskan kain dengan benang
Jarinya menatap jarum yang menghujam
Dulu kakimu pusat tenaga penggerak rejeki
Dari kayuhmu receh gemerincing di dompet tua bercap toko mas
Ketika listrik dipaksa masuki desa sebagai politik etis
Tinggal encok dan varises tersisa di kedua kaki
Pagi, setelah bersih dan rapi ibu menghadap mesin jahit
Menanti hantaran kain dengan segala aksesoris
Yang tiba serupa kecilkan pinggang atau menambal robek
Sisa hari hanya menggantang angin
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
JANGAN TUNGGU LAMA
Tidaklah menunggu bahkan menunda Sebab tiada hasil nir keringat Harga... Nilai... Dinisbahkan pada waktu Ditasbihkan lewat air mata
-
Nampaknya musim tak serta merta bergulir Ia meletakkan panasnya di bahu siang yang terik Dan malam-malam yang sumuk singgah di peraduan Ket...
-
Daun terapung dan, jatuh di haribaan Menanggalkan warnanya dan, meninggalkan ranting yang merana Pada kering ia berlabuh Karena kenangan jel...
-
Seorang anak mengais nasib di tepi jalan Jari kecilnya merintih Tubuhnya ringkih Hingga berbayang tulang Panas menggerenyitkan wajahnya Baju...
Puisi "IBU SEDANG MENJAHIT" ini sangat menggugah dan sarat makna. Anda berhasil menangkap kedalaman kasih sayang seorang ibu, serta perjuangannya yang tak kenal lelah. Penggunaan imageri yang kuat—seperti "punggung menunduk bungkuk" dan "jarum yang menghujam"—menciptakan visual yang hidup dan emosional.
BalasHapusKontras antara masa lalu yang penuh tenaga dan kondisi saat ini, di mana tubuhnya mulai rentan, sangat mengena. Pesan tentang pengorbanan dan ketekunan ibu dalam menjalani hidup, meskipun dengan segala keterbatasan, membuat puisi ini sangat menyentuh.
Apakah ada aspek tertentu dari puisi ini yang ingin Anda eksplorasi lebih lanjut?