Sabtu, 20 Juli 2019

IBU SEDANG MENJAHIT

Punggungmu menunduk bungkuk
Menanggung mata yang mulai katarak
Kacamata pun tak kuasa membantu
Sebab hanya jarak yang membedakan warna

Tangan itu, tangan yang pernah menggendong dengan kasih
Membelai kantuk hingga bersua mimpi
Gemetar meluruskan kain dengan benang
Jarinya menatap jarum yang menghujam

Dulu kakimu pusat tenaga penggerak rejeki
Dari kayuhmu receh gemerincing di dompet tua bercap toko mas
Ketika listrik dipaksa masuki desa sebagai politik etis
Tinggal encok dan varises tersisa di kedua kaki

Pagi, setelah bersih dan rapi ibu menghadap mesin jahit
Menanti hantaran kain dengan segala aksesoris
Yang tiba serupa kecilkan pinggang atau menambal robek
Sisa hari hanya menggantang angin

1 komentar:

  1. Puisi "IBU SEDANG MENJAHIT" ini sangat menggugah dan sarat makna. Anda berhasil menangkap kedalaman kasih sayang seorang ibu, serta perjuangannya yang tak kenal lelah. Penggunaan imageri yang kuat—seperti "punggung menunduk bungkuk" dan "jarum yang menghujam"—menciptakan visual yang hidup dan emosional.

    Kontras antara masa lalu yang penuh tenaga dan kondisi saat ini, di mana tubuhnya mulai rentan, sangat mengena. Pesan tentang pengorbanan dan ketekunan ibu dalam menjalani hidup, meskipun dengan segala keterbatasan, membuat puisi ini sangat menyentuh.

    Apakah ada aspek tertentu dari puisi ini yang ingin Anda eksplorasi lebih lanjut?

    BalasHapus

JANGAN TUNGGU LAMA

Tidaklah menunggu  bahkan menunda Sebab tiada hasil nir keringat Harga...  Nilai...  Dinisbahkan pada waktu Ditasbihkan lewat air mata