Ketika itu yang mbaurekso bangun dari mimpinya
Suara adalah malam yang kian silam
Kepak sayap kelelawar bersinggungan dengan dedaunan
Lampu berkedip di setiap kaca rumah
Mengusir gelap keluar dari kenyamanan
Menggebahnya ke pelosok kebun
Mengundang serangga sebagai altar kematian
Adik digendong emak di amben
Mulutnya mengecap tetek
Tangannya menggerayangi renda daster
Matanya, bening, mengantuk
Memandang terpana bibir emak yang bergumam
Senandungkan lagu tentang malam yang lelap
Suara anak kecil melantunkan pujian
Dengan logat medok dari pengeras surau
Menanti mbah modin menuju pengimaman
Dengan nyaring mengetuk setiap pintu
Uluk salam pada bulan yang pucat
Menyibak malam beraroma angin lembut
Pria dengan kopiah dan sarung
Wanita mengenakan mukena putih
Berjalan ke satu arah. Kiblat
Di beranda surau melewati bedug
Mereka terpecah dan berpisah
Ke kiri dan kanan melewati pintu nasib yang kelupaan
Membentuk barisan dan doa
Gelisah menanti aba-aba mbah modin
Abah pulang dari sawah
Habis memeriksa pematang dan gili-gili
Kakinya dilumasi lumpur
Paculnya dipanggul di bahu
Sejenak beristirahat di amben beranda belakang
Menyapih keringat dan kering
Lalu masuk ke jeding diterangi teplok
Membersihkan diri
Keluar dari jeding rambutnya basah
Pakaian telah berganti singlet dan kolor
Langkahnya perlahan menuju kamar utama
Di dalam, emak tetap menggendong adik di amben
Mulutnya tidak lepas dari pentil dan matanya telah meram
Baju koko dan sarung di gantungan diambil lalu dipakai
Digelarnya sajadah menghadap tembok
Dengan khusyu kedua tangannya diangkat. Bertakbir
Abah sholat isya sendiri
Kamis, 09 April 2020
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
JANGAN TUNGGU LAMA
Tidaklah menunggu bahkan menunda Sebab tiada hasil nir keringat Harga... Nilai... Dinisbahkan pada waktu Ditasbihkan lewat air mata
-
Nampaknya musim tak serta merta bergulir Ia meletakkan panasnya di bahu siang yang terik Dan malam-malam yang sumuk singgah di peraduan Ket...
-
Daun terapung dan, jatuh di haribaan Menanggalkan warnanya dan, meninggalkan ranting yang merana Pada kering ia berlabuh Karena kenangan jel...
-
Seorang anak mengais nasib di tepi jalan Jari kecilnya merintih Tubuhnya ringkih Hingga berbayang tulang Panas menggerenyitkan wajahnya Baju...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar