Aku yang menentukan arah takdirku
Kudaki puncak pengetahuan
Kuselami palung keingintahuan
Kujelajahi setiap sudut dunia
Bertualang di kubangan birahi
Berdebat bagi cipta rasa karsa
Memuaskan segenap indera
Mengejar ketertinggalan gender
Membuang rendah diri
Bersaing merebut masa depan
Meraih supermasi
Menggantung harga diri setinggi langit
Mbok,
Janganlah engkau bicara kodrat
Pernikahan dan beranak
Berbakti pada suami
Sebab itu mengkhianati arah takdirku
Menampar harga diri
Dan usiaku telah tergelincir dari lohor
Ampuni aku Mbok anak perempuanmu yang tidak berbakti
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
JANGAN TUNGGU LAMA
Tidaklah menunggu bahkan menunda Sebab tiada hasil nir keringat Harga... Nilai... Dinisbahkan pada waktu Ditasbihkan lewat air mata
-
Nampaknya musim tak serta merta bergulir Ia meletakkan panasnya di bahu siang yang terik Dan malam-malam yang sumuk singgah di peraduan Ket...
-
Daun terapung dan, jatuh di haribaan Menanggalkan warnanya dan, meninggalkan ranting yang merana Pada kering ia berlabuh Karena kenangan jel...
-
Seorang anak mengais nasib di tepi jalan Jari kecilnya merintih Tubuhnya ringkih Hingga berbayang tulang Panas menggerenyitkan wajahnya Baju...
Puisi ini menggambarkan pergulatan antara keinginan untuk menentukan takdir sendiri dan tuntutan sosial yang mengekang, khususnya bagi perempuan. Ada semangat pemberontakan terhadap ekspektasi tradisional yang sering kali dibebankan, seperti kodrat pernikahan, beranak, dan pengabdian pada suami. Sisi pribadi sang tokoh dalam puisi ini digambarkan begitu kuat, dengan tekad mengejar pengetahuan, ambisi, dan kesetaraan, namun bertentangan dengan ajaran yang ditanamkan oleh ibu.
BalasHapusAda juga rasa bersalah yang diungkapkan dalam permohonan maaf kepada ibunya, yang mencerminkan ketegangan antara menjalani kehidupan sesuai kehendak pribadi dan memenuhi ekspektasi tradisional. Perasaan mendalam ini terasa nyata melalui ungkapan "usiaku telah tergelincir dari lohor," yang menandakan waktu yang terus berjalan dan mungkin kian mendekati titik tanpa kembali.
Puisi ini mengangkat tema kebebasan diri, feminisme, dan pergulatan batin dalam mempertahankan harga diri di tengah ekspektasi sosial.