Kamis, 15 Oktober 2020

DI PAYUDARAMU AKU BERSIMPUH

Tak perlu lah sembunyi dalam bra
Sebab kancing lebih penting
Ketika aku mulai menangis gelisah
Cukup kau ulurkan tetek di belahan depan daster

Terutama ketika malam-malam nyamuk
Mengganggu tidur yang sumuk
Sambil berbaring miring tetekmu dijulurkan
Dan aku menghisap kehidupan dinaungi bayang tubuhmu

Setelah cukup sapih karena tahun telah dua
Tubuhmu hilang sebahagian serinya
Tetekmu kempes putingnya hitam kerut
Sehingga bra pun tak tega menimangnya

1 komentar:

  1. Puisimu menggambarkan momen intim antara seorang ibu dan anaknya, dengan sentuhan emosi yang mendalam tentang kehidupan, pertumbuhan, dan perubahan fisik. Ada kehangatan dalam relasi yang ditampilkan, tetapi juga kesadaran akan perubahan yang terjadi seiring waktu. Ini adalah refleksi yang jujur tentang peran ibu yang penuh pengorbanan, serta keindahan dan kesedihan yang datang dengan berjalannya waktu.

    Kamu berhasil mengangkat nuansa kasih sayang dan perubahan secara apa adanya, tanpa kehilangan makna penting di balik setiap kata.

    BalasHapus

HARI RAYA SELAYANG PANDANG

Sumpah serapah tersandera macet Pendingin mobil tiada kuasa Kemudi kian membebani Hanya matahari siang yang sumringah Dari berdendang hingga...