Banyak tahun memamah ilmu
Menimba di tiap ajar
Mencari di mahal bimbingan
Bertanya ajuk pada bijak
Mencontek serupa gaya hidup
Hindari tatap awas
Menulis lembar pengetahuan
Sakit demi terampil
Sedikit luang hanya sibuk hafal
Waktu renggangkan asih asuh
Jauh dari kehangatan rumah
Mencari perhatian pada karib senasib
Mengejar waktu dikejar kurikulum
Laparpun tetap lahap buku
Mengunyah rumus
Pada akhir uji terampil pikir
Sertifikat didapat
Usia siap jalani kerasnya hidup
Namun langkah tetap tergagap mencari kerja
Kamis, 13 September 2018
Rabu, 12 September 2018
KESEPIAN KITA
Kesepian kita
Kedap ekspresi
Lalu lalang di keramaian
Seumpama topeng
Tiada sapa
Hilang arah
Di rimba kata
Kesepian kita
Diam dalam tatap
Senyap mengendap
Lenyap menguap
Terasing rindu
Terpisah tembok
Bertirai duka
Kesepian kita
Hilang hening
Kenang terulang
Harap menghadap
Silap mengendap
Angin lalu
Dunia bisu
Kedap ekspresi
Lalu lalang di keramaian
Seumpama topeng
Tiada sapa
Hilang arah
Di rimba kata
Kesepian kita
Diam dalam tatap
Senyap mengendap
Lenyap menguap
Terasing rindu
Terpisah tembok
Bertirai duka
Kesepian kita
Hilang hening
Kenang terulang
Harap menghadap
Silap mengendap
Angin lalu
Dunia bisu
Senin, 10 September 2018
SIKLUS
Kering letikkan panas lelatu
Angin tiupkan kematian pada kobarnya
Melahap daun dan ranting serupa bara, merah
Asap membumbung hadirkan maut
Pohon menghitam terawang langit
Bau gosong sesakkan nafas
Tiap hidup yang bergantung
Tumpas lenyap dilalap api
Ketika amarah telah arang dan abu
Langit teteskan harap dari celah awan
Air basuh luka bumi perciki benih kehidupan
Tumbuhkan tunas dan daun, hijau
Angin tiupkan kematian pada kobarnya
Melahap daun dan ranting serupa bara, merah
Asap membumbung hadirkan maut
Pohon menghitam terawang langit
Bau gosong sesakkan nafas
Tiap hidup yang bergantung
Tumpas lenyap dilalap api
Ketika amarah telah arang dan abu
Langit teteskan harap dari celah awan
Air basuh luka bumi perciki benih kehidupan
Tumbuhkan tunas dan daun, hijau
Sabtu, 08 September 2018
DAUN
Dan daun luruh berguguran dipelukan ibu bumi
Menanti isak langit di dahan ranting
Dibawanya semua warna kemarau yang menguning kering
Angin telah lelah memikul kerontang
Kadang bisikkan harap di puncak kulminasi
Mengusik burung tempua di pelepah
Daun jatuh dan bayang pohon memanjang
Rindangnya serupa pukau silau
Gemerisiknya khusyu lantunkan mantera hujan
Menanti isak langit di dahan ranting
Dibawanya semua warna kemarau yang menguning kering
Angin telah lelah memikul kerontang
Kadang bisikkan harap di puncak kulminasi
Mengusik burung tempua di pelepah
Daun jatuh dan bayang pohon memanjang
Rindangnya serupa pukau silau
Gemerisiknya khusyu lantunkan mantera hujan
Jumat, 07 September 2018
MENUJU SENJA
Tahun hilang dihanyutkan kenangan
Pergulatan tanpa tindak hendak
Ketika pijak tinggalkan langkah
Hati termangu menatap kesiaan
Telusur jejak di senyap sejarah
Seperti lagu tak nanti usai
Setiap tanda hadir kesadaran
Hanya sisakan letikan sesal
Senja terbata mengeja usia
Wajah menanti kepastian lalu
Kelabu rambut hanya pertanda waktu
Dan kita disini terdiam kian tua
Pergulatan tanpa tindak hendak
Ketika pijak tinggalkan langkah
Hati termangu menatap kesiaan
Telusur jejak di senyap sejarah
Seperti lagu tak nanti usai
Setiap tanda hadir kesadaran
Hanya sisakan letikan sesal
Senja terbata mengeja usia
Wajah menanti kepastian lalu
Kelabu rambut hanya pertanda waktu
Dan kita disini terdiam kian tua
Kamis, 06 September 2018
MENUNGGU GILIR
Lelaki tua lelap tekuni mimpi
Rebahkan lelah di bangku sunyi
Meringkuk berselimut ringkih
Pejamkan mata dengkurkan sepi
Perempuan tua tekuri bosan
Menatap waktu dan diam
Berdiri di kerumunan antrian
Menanti gilir kesempatan
Lelaki dan perempuan tua memikul letih
Dengan renta di pagi merepih
Usia tiada kecuali merapat baris
Sebab tiba menjadi batas garis
Rebahkan lelah di bangku sunyi
Meringkuk berselimut ringkih
Pejamkan mata dengkurkan sepi
Perempuan tua tekuri bosan
Menatap waktu dan diam
Berdiri di kerumunan antrian
Menanti gilir kesempatan
Lelaki dan perempuan tua memikul letih
Dengan renta di pagi merepih
Usia tiada kecuali merapat baris
Sebab tiba menjadi batas garis
Minggu, 02 September 2018
MENGAPA SEMBUNYI
Kata tak akan melukis wajahmu utuh
Sekedar basa basi berdalih malu
Meski jujur tak nanti tampak hadap
Tatap lebih jelas dari seribu ungkap
Gambarmu lebih indah dari sosok
Sebagai cemas salah menilai diri
Berhentilah mencoba membaca hati
Sebab kasat mata telah cerna banyak
Mengapa sembunyi
Bila komunikasi
coba sambung silaturohim
Mengapa sembunyi
Jika membuka diri
campakkan benci
Sekedar basa basi berdalih malu
Meski jujur tak nanti tampak hadap
Tatap lebih jelas dari seribu ungkap
Gambarmu lebih indah dari sosok
Sebagai cemas salah menilai diri
Berhentilah mencoba membaca hati
Sebab kasat mata telah cerna banyak
Mengapa sembunyi
Bila komunikasi
coba sambung silaturohim
Mengapa sembunyi
Jika membuka diri
campakkan benci
Langganan:
Postingan (Atom)
LELAKI YANG MENGGADANG MALAM
Malam sepertinya tak pernah jelaga Karena bintang kerap tercerna Sebagai hidangan penutup Ia menyeduh kopi dengan harap Dan pahitnya membumb...
-
Daun terapung dan, jatuh di haribaan Menanggalkan warnanya dan, meninggalkan ranting yang merana Pada kering ia berlabuh Karena kenangan jel...
-
Nampaknya musim tak serta merta bergulir Ia meletakkan panasnya di bahu siang yang terik Dan malam-malam yang sumuk singgah di peraduan Ket...
-
Ku singkap embun di selasar Di balik daun seperti biasanya Dan pagi masih di timur Seperti kemarau yang telah lampau Burung masih memamerka...