Andainya dua belas sebagai gerbang kiamat
Enam enam enam adalah kunci neraka berkarat
Sedang tujuh inkarnasi inisiasi para imam
Mulai pencerahan pengetahuan hingga orang tua di gunung
Adapun delapan tiada batas waktu yang serupa sembilan kemakmuran
Begitu juga lima seumpama pilar dan enam yakin
Tiga satu tiga mengalirkan aura gaib di tiap dzikir dan kemenangan
Sebagai jumlah kunci pembuka dari tujuh lajur langit
Aku akan....
Rintihan kedasih membetot nyawa dari ubun-ubun
Dan ular beludak melintasi nasib melewati baik buruk
Serta kucing hitam menatap karma dari gelap malam yang menghipnotis
Kokok ayam jantan di kentongan ke dua
Uluk salam pada utusan pembawa rahmat
Ringkik kuda memecah sepi malam durjana
Mengabarkan kesakitan dan cerita duka makhluk
Bekisar merah serta cemani sesaji keberkahan
Lolong anjing menyambut pemilik kegelapan
Demikian segala bulu meremang sebab kuduk dan lengan tergetar bersentuhan
Aku akan....
Kutuk adalah anak Haram setiap kata yang meluncur
Sumpah serapah letakkan benci di ujung amarah
Bait mantra mengikat jiwa-jiwa sesat
Gulungan jimat mengundang tangan gaib dendam
Ucap memohon lunasi hutang perjanjian
Segenap ujaran menghasut akal sehat
Aku akan....
Minggu, 22 September 2019
Jumat, 20 September 2019
SKETSA
Seorang ibu keluar dari pintu belakang sebuah mobil lalu mendatangi tukang buah.
+ Itu yang kuning mangga apa, Bang?
- Gedong gincu, Nyah.
+ Berapa sekilonya?
- Dua puluh tujuh rebu.
+ Mahal amat! Kisut-kisut lagi.
- @#$_&-(() /*"':;!???
+ Arumanis berapaan sekilo, Bang?
- Tiga puluh rebu, Nyah.
+ Mahalnya.
- Wayah gini belon musim, Nyah.
Di pusatnya aja belon panen raya.
Ni kiriman sebab saya udah langganan
ama juragan.
+ Kok gak ada icip-icipnya, Bang?
- Mangga mah buah musiman, Nyah.
Jadi kaga bisa diicip.
Noh semangka ama pepaya bisa diicip.
Soalnya kaga ada musimnya.
+ Mangganya kecut nggak ya, Bang?
Nanti udah dibeli kecut lagi.
- ....................................................
Dipegangnya mangga-mangga itu lalu di timang-timang. Demikian ia beberapa kali melakukannya.
+ Dua-duanya sekilo tujuh belas ribu,
ya Bang?
- Waduh belon balik modal, Nyah.
Dua lima, Nyah.
Seorang wanita setengah baya dan gemuk mendatangi dari seberang lapak.
# Kang, nempil gincunya dua kilo.
Ada langganan lama nyari.
- Ambil aja.
# Berapa kalo nempil?
- Buat lo dua dua setengah aja.
+ Lho itu murah, Bang.
- Itu kan dijual lagi.
+ Ya udah, samain harganya sama ibu tadi,
ya.
- Iya deh. Beli berapa kilo, Nyah?
+ Gedong gincu setengah.
Arumanis setengah.
Uangnya dua dua, ya. Nih, Bang.
Kembali dua delapan.
- Kurang lima ratus.
+ Kortingan dong, Bang.
O ya, minta semangkanya dua iris untuk
icip-icip.
+ Itu yang kuning mangga apa, Bang?
- Gedong gincu, Nyah.
+ Berapa sekilonya?
- Dua puluh tujuh rebu.
+ Mahal amat! Kisut-kisut lagi.
- @#$_&-(() /*"':;!???
+ Arumanis berapaan sekilo, Bang?
- Tiga puluh rebu, Nyah.
+ Mahalnya.
- Wayah gini belon musim, Nyah.
Di pusatnya aja belon panen raya.
Ni kiriman sebab saya udah langganan
ama juragan.
+ Kok gak ada icip-icipnya, Bang?
- Mangga mah buah musiman, Nyah.
Jadi kaga bisa diicip.
Noh semangka ama pepaya bisa diicip.
Soalnya kaga ada musimnya.
+ Mangganya kecut nggak ya, Bang?
Nanti udah dibeli kecut lagi.
- ....................................................
Dipegangnya mangga-mangga itu lalu di timang-timang. Demikian ia beberapa kali melakukannya.
+ Dua-duanya sekilo tujuh belas ribu,
ya Bang?
- Waduh belon balik modal, Nyah.
Dua lima, Nyah.
Seorang wanita setengah baya dan gemuk mendatangi dari seberang lapak.
# Kang, nempil gincunya dua kilo.
Ada langganan lama nyari.
- Ambil aja.
# Berapa kalo nempil?
- Buat lo dua dua setengah aja.
+ Lho itu murah, Bang.
- Itu kan dijual lagi.
+ Ya udah, samain harganya sama ibu tadi,
ya.
- Iya deh. Beli berapa kilo, Nyah?
+ Gedong gincu setengah.
Arumanis setengah.
Uangnya dua dua, ya. Nih, Bang.
Kembali dua delapan.
- Kurang lima ratus.
+ Kortingan dong, Bang.
O ya, minta semangkanya dua iris untuk
icip-icip.
Kamis, 19 September 2019
PERTUNJUKAN GAMBAR HIDUP
Adegan mengusik layar
Mata hilang kedip. Menatap
Ketegangan meningkat
Sepasang remaja berciuman di pojok remang
Suara ledakan mengguncang
Api di mana-mana. Menari
Semua terhenyak di kursi
Dering gadget di baris depan
Layar telah kosong
Lampu temaram. Redup
Musik tetap berdentam
Pasangan menuruni undakan
Mata hilang kedip. Menatap
Ketegangan meningkat
Sepasang remaja berciuman di pojok remang
Suara ledakan mengguncang
Api di mana-mana. Menari
Semua terhenyak di kursi
Dering gadget di baris depan
Layar telah kosong
Lampu temaram. Redup
Musik tetap berdentam
Pasangan menuruni undakan
Rabu, 18 September 2019
KOTAK MUSIK
Kotak musik menyimpan suasana
Diterbangkan angin ke pucuk pagi
Turun ke bumi dalam rintik
Menabuh buluh perindu serumpun
Ketika nada disematkan
Kenangan terseret dan tenggelam
Bidadari sunyi melarung selendang
Menulis kabar selarik bait
Kotak musik mengalun rindu
Dimamahnya segala pedih perih
Kau mengendap ke dasar gaduh
Aku terpekur dalam kamar. Sendiri
Diterbangkan angin ke pucuk pagi
Turun ke bumi dalam rintik
Menabuh buluh perindu serumpun
Ketika nada disematkan
Kenangan terseret dan tenggelam
Bidadari sunyi melarung selendang
Menulis kabar selarik bait
Kotak musik mengalun rindu
Dimamahnya segala pedih perih
Kau mengendap ke dasar gaduh
Aku terpekur dalam kamar. Sendiri
Minggu, 15 September 2019
DI BELAKANG GARIS
Adalah garis penegas
Merangkum segala titik
Dan waktu mengikatnya
Di kedalaman tanpa dasar
Aku merentang jarak
Berdiri di kiri sendiri
Menatap keluasan jingga
Tepat disisi garismu
Sementara garis terus menggores
Sebagai pemisah
Aku tetap menanti, dan
kau dimanapun titik berhenti
Merangkum segala titik
Dan waktu mengikatnya
Di kedalaman tanpa dasar
Aku merentang jarak
Berdiri di kiri sendiri
Menatap keluasan jingga
Tepat disisi garismu
Sementara garis terus menggores
Sebagai pemisah
Aku tetap menanti, dan
kau dimanapun titik berhenti
Sabtu, 14 September 2019
BENDERA SETENGAH TIANG
Benderaku memanjat setengah tiang
Kabarkan duka lewat kibarnya
Angin kembara terbang ke penjuru
Menebar pesan menyemai haru biru
Benderaku memanjat setengah tiang
Tak kuasa naik sepenggalah
Sebab kabar adalah air mata pertiwi
Dan tiang sebagai penyangga langit
Kabarkan duka lewat kibarnya
Angin kembara terbang ke penjuru
Menebar pesan menyemai haru biru
Benderaku memanjat setengah tiang
Tak kuasa naik sepenggalah
Sebab kabar adalah air mata pertiwi
Dan tiang sebagai penyangga langit
Kamis, 12 September 2019
FRAGMEN
Dengan sedikit ragu, ia membuka slot kunci pagar. Didorongnya pagar perlahan hingga terbuka.
Dari pagar hingga beranda terbentang jalan kecil berkerikil. Di kiri kanannya ditanami krokot yang tumbuh subur.
Di beranda yang asri, bergantungan pot-pot dengan aneka tanaman. Juga seperangkat meja kursi terbuat dari besi. Kokoh.
Sesampai di depan pintu rumah, perlahan ia mengetuknya.
"Tok... tok... tok...".
" Assalamu'alaikum", suaranya parau.
Ditunggu sejenak, lalu diulanginya lagi mengetuk pintu.
"Tok... tok... tok... ".
" Assalamu'alaikum ", kembali ia uluk salam.
Diambilnya kertas lusuh dari kantong celana. Dibacanya alamat yang tertera. Dicocokkan dengan nomor rumah yang terpampang di samping pintu. Lalu, kertas lusuh itu dimasukkan kembali ke dalam kantong celana setelah dilipat rapi.
Sedikit jinjit, wajahnya diletakkan di kaca jendela. Matanya ditutupi jari tangannya menolak silau. Di dalam, ada seperangkat kursi dan lemari. Di tembok ada lukisan replika dan beberapa foto. Suasana asri dan sepi.
Kemudian, dicobanya lagi mengetuk pintu.
"Tok... tok... tok... ".
" Assalamu'alaikum ", suaranya lebih keras.
Ditunggu beberapa waktu, tetap tidak ada jawaban.
Dengan apa boleh buat, ia balikkan badan menuju pagar, lewat jalan kecil berkerikil yang di kiri kanannya ditanami krokot.
Dari pagar hingga beranda terbentang jalan kecil berkerikil. Di kiri kanannya ditanami krokot yang tumbuh subur.
Di beranda yang asri, bergantungan pot-pot dengan aneka tanaman. Juga seperangkat meja kursi terbuat dari besi. Kokoh.
Sesampai di depan pintu rumah, perlahan ia mengetuknya.
"Tok... tok... tok...".
" Assalamu'alaikum", suaranya parau.
Ditunggu sejenak, lalu diulanginya lagi mengetuk pintu.
"Tok... tok... tok... ".
" Assalamu'alaikum ", kembali ia uluk salam.
Diambilnya kertas lusuh dari kantong celana. Dibacanya alamat yang tertera. Dicocokkan dengan nomor rumah yang terpampang di samping pintu. Lalu, kertas lusuh itu dimasukkan kembali ke dalam kantong celana setelah dilipat rapi.
Sedikit jinjit, wajahnya diletakkan di kaca jendela. Matanya ditutupi jari tangannya menolak silau. Di dalam, ada seperangkat kursi dan lemari. Di tembok ada lukisan replika dan beberapa foto. Suasana asri dan sepi.
Kemudian, dicobanya lagi mengetuk pintu.
"Tok... tok... tok... ".
" Assalamu'alaikum ", suaranya lebih keras.
Ditunggu beberapa waktu, tetap tidak ada jawaban.
Dengan apa boleh buat, ia balikkan badan menuju pagar, lewat jalan kecil berkerikil yang di kiri kanannya ditanami krokot.
Langganan:
Postingan (Atom)
AGUSTUS KE DELAPAN SATU
Podium hanyalah ruang caci maki Dan mimpi besar kemakmuran Adalah oligarki beserta kroni Ku reguk kopi pagi Terasa pahitnya hari Dikunyah de...
-
Daun terapung dan, jatuh di haribaan Menanggalkan warnanya dan, meninggalkan ranting yang merana Pada kering ia berlabuh Karena kenangan jel...
-
Nampaknya musim tak serta merta bergulir Ia meletakkan panasnya di bahu siang yang terik Dan malam-malam yang sumuk singgah di peraduan Ket...
-
Ku singkap embun di selasar Di balik daun seperti biasanya Dan pagi masih di timur Seperti kemarau yang telah lampau Burung masih memamerka...