Selasa, 05 Januari 2021

TEH PANAS DAN PAGI MUSIM HUJAN

Adalah segelas teh panas aroma melati
Menatap pagiku dari meja kayu jati
Di luar hujan belum lagi tiba 
Hanya sekilas mendung dan dingin yang menggigit

Teh itu pahit dan hampir kehilangan panasnya
Tutupnya tak mampu sembunyikan
Lidahku setengah menolak hirupan
Namun seteguk melewati beranda pagi

Pagi telah sesaki pekarangan
Di hijau daun serta atap rumah
Teh meninggalkan ampasnya di dasar gelas
Dan aku bergegas mendatangi pagi sendiri

Senin, 04 Januari 2021

CUCIAN

Ritual mencuci adalah sabun, air dan menanti
Tak ada tujuh bidadari mandi
Telanjang mata sembunyi
Di telaga sunyi menikmati

Sebab mencuci telah industri
Kaki tangan hilang kutu air
Tanpa celoteh gadis di sungai
Dan batu untuk mengilas kain

Di tali jemuran yang berangin
Dengan sisakan lembab sedikit
Matahari hanya sekejap menghampiri
Karena panas dikalahkan oleh mesin

Minggu, 03 Januari 2021

SARAPAN

Setelah sekian waktu tak sua
Ku coba datangi sumringahnya pagi
Di depan warung pecel langganan
Ku ajak kau makan di satu meja

Sepiring sego pecel pedas
Kita bagi sebagai keringat di dahi
Sinar menerobos lubang tenda
Kopi tubruk sebagai penerus hari

Di depan pintu kita berpisah
Dari balik jendela kulirik
Di atas langit ternyata hanya awan
Dan kau hilang dibalik mendung

Sabtu, 02 Januari 2021

PASARAN (ii)

Dan lorong diam
Hanya ada bisik
Produk tengadah congkak
Dari etalase sunyi

Tak ada kata berceceran
Gadis berbusana ketat
Menanti di ujung lorong
Senyumnya imitasi

Kereta didorong
Kaki melangkah
Tangan menjangkau
Tak ada menawar hanya tawar

Pembeli sibuk
Sibuk membaca
Sibuk mencari
Sibuk membawa

Berakhir di antrian
Di meja kasir
Di kantong plastik
Dibawa sendiri

PASARAN (i)

Di belakang, pasar mulai semarak
Pagi mendatangi dengan semanak
Hangatnya tetap mengundang
Kedai berbaris dan tersenyum
Udara dipenuhi keriuhan
Antara bau sayur busuk 
dan tawar menawar
Di sudut bedeng, 
dua orang bertengkar berebut rejeki
Induk kucing menggiring anaknya mencari makan
Tikus tak ada takut memandangnya liwat

Keramaian kian berdesakan
Karena matahari semakin tinggi
Dan kios sesak didatangi
Kuli menggendong sarapannya
Di panggul hingga menumpuk di beca
Mantri pasar berkeliling
Menarik iuran dan mendatangi warung
Ngopi pagi sambil mendengar cerita

Di sepanjang gang menuju gerbang
Kadang tani menggelar hasil bumi dan harapan
Merah kuning hijau warnanya
Tukang kredit menyapa dan mengapit buku
Seorang nyonya berjalan perlahan
Menghindari kerumunan dan keringat
Di belakangnya, tepat selangkah
Genduknya mengikuti sambil menjinjing tas anyaman plastik

Agak di timur matahari
Menempel di tembok berlumut
Pedagang daging berbaris
Dengan pisau tajam dan kait besi
Karkas digantung bercampur lemak
Kucing dan anjing kampung bersliweran
Seorang embok dengan kebaya dan selendang
Ayam dikempit di keteknya dan bulunya dielus
Ditawarkan kepada setiap yang lewat
Ikan, ayam, bebek semua menanti pembeli
Siap hidup siap mati
Asal harga pasti

Di sebuah kios kosong
Seseorang makan dengan lahap
Sarapan di pincuk
Beberapa orang membentuk lingkaran
Bermain kartu
Berteriak riang sebab dagangannya habis
Sebab kartunya bagus
Sebab menang uang receh
Asap rokok membumbung
Beberapa cangkir kopi menanti

Pasar tetap genap pada marwahnya
Pada jual beli
Pada berita angin
Pada keriaan
Pada untung rugi
Pada interaksi
Pada budaya

Jumat, 01 Januari 2021

KETIKA ISOLASI MANDIRI

Aku jadi kenal hujan

Mendungnya yang kelabu abu
Rintiknya yang menitik
Juga suaranya yang ritmik

Jika mendatangi malam
Dipandu kilat petir
Hujan turun dengan gairah

Kadang matahari digodanya
Sinarnya diselubungi awan hitam
Dan gerimis berjatuhan dengan riang

Sederas hujan turun
Setelah guruh gemuruh
Angin berbisik pada daun

Semoga saja hujanpun mengenaliku

BARU

Dimanakah perbedaan? 
Lelatu kembang api? 
Pagi yang mendung?

Tanpa begadang, 
sarapan sego pecel dan teh panas
Tembakau lintingan dan gosip murahan

Apakah sama? 
Kafe dirundung hujan
Muda mudi berpelukan

Hujan gerimis seperti tirai
Malam kian panjang
Acara tivi basi jua

Kucing tidur pulas di sofa
Bertukar tahun bersama pandemi

LELAKI YANG MENGGADANG MALAM

Malam sepertinya tak pernah jelaga Karena bintang kerap tercerna Sebagai hidangan penutup Ia menyeduh kopi dengan harap Dan pahitnya membumb...