Selasa, 07 September 2021

MALAMKU

Aku mengajak malamku mendatangi kota
Di antara dua gunung berteduh
Kemarau berangin debu
Penghujan beratap awan kelabu

Di kota, malam berpencaran
Di antara kafe yang penuh lampu gantung
Bangunan kantor yang diam di kegelapan
Dan tawa ria di sela-sela sinar lampu

Jalan pada itu waktu masuki pukul delapan
Pembatas diletakkan untuk membatasi malam
Namun kendaraan berupaya melintasi
Mencari jalan pulang ke rumah

Minggu, 05 September 2021

HARI INI AKU ULANG TAHUN

Hari ini aku ulang tahun
Aku duduk bersila di atas dipan
Tempat berbagi tidur dengan kakak dan adik
Di ruangan sempit yang di sebut kamar
Tanpa ventilasi hanya sumuk yang ada

Hari ini aku ulang tahun
Dalam ingatannya adalah hotel berbintang
Kue bertingkat
Saudara dan sahabat
Kolega ayah
Hadiah bertumpuk
Makanan tak ada habis
Kebahagiaan tumpah ruah
Lampu dan cahaya menggenapi

Hari ini aku ulang tahun
Perayaan serupa impian yang jauh
Ibu entah kemana
Ayah di Lembaga Pemasyarakatan
Kakak mengais rejeki
Aku sendiri merenung dalam sepi
Diam dan melamun
Di kamar

DITINDIH

Tiba-tiba kesadaran menerjang tidurku
Mataku terbelalak dan nafas terengah
Dadaku ditindih tersesak oleh sesuatu
Namun hanya remang gelap kutemui

Sejenak ku atur nafasku 
Sesak di dada perlahan lenyap
Ku coba pejamkan mata lagi
Seperti malam yang hilang begitu saja

Namun mimpi tak datang
Pikiran bergelut sendiri
Ku duduk di ujung ranjang
Menggadangi kamar

Sabtu, 04 September 2021

HANYA CERITA

Rumah itu kuno
Dikelilingi pohon besar
Beringin dengan gagah menyandingi
Di dalam lampu bergelantungan
Dihiasi kristal berbagai ukuran
Warnanya temaram hingga suram

Di ruang makan
Sebuah meja panjang
Duduk di ujung selatan seorang wanita cantik setengah baya
Di ujung utara seorang pemuda
Mereka seperti menantikan jamuan
Masing-masing menegang gelasnya
Menghirup pelan-pelan tanpa bincang

+Kau tetap akan pergi sekarang? 
Pemuda itu hanya diam
Matanya nyalang menjawab
+Baiklah, ini makan malam terakhir kita
Lalu si wanita menepuk tangan
Dari balik pintu pelayanan mendatangi
Nampannya diletakkan di depan si pemuda
Tutupnya dibuka
Tersiar bau harum daging di panggang
Jantung dan hati dimasak sempurna
Disirami saus coklat
Beserta sayuran seperti wortel dan jagung

+Ayo, dimakan! 
-Kau tidak makan? 
+Aku masih kenyang. Habiskan saja         makananmu. Lalu kau boleh pergi. 
Tanpa sungkan pemuda itu langsung melahap hingga tandas
Si wanita hanya menatap sambil meneguk minumannya
Di bibir tipisnya seulas senyum dingin
------------------------------------

Di pagi yang cerah
Di hutan taman kota
Orang-orang bergerombol sambil menutup hidung
Polisi dan tenaga kesehatan berdatangan
Sosok mayat wanita muda tergeletak
Isi perutnya terburai 
Jantung dan hatinya lenyap

Jumat, 03 September 2021

MAKAN MALAM

Tak ada lilin aroma melati
Juga temaram lampu romantis

Kita duduk berhadapan
Di atas meja,
taplaknya batik plastik

Semangkuk sayur 
Sepiring tahu tempe
Sebokor nasi hangat 
Stoples berisi kerupuk

Makan berebut sunyi
Hanya denting sendok dan piring

Air diteguk
Udara terasa panas
Baju basah oleh keringat

Sambil berdiri membereskan, 
Ia bertanya, "ayah mau kopi?"

"Boleh!"

"Kalau begitu tunggu di ruang tengah"

"Sehabis bersih meja, nanti dibuatkan"

Mereka melangkah bertolak belakang. Berlawanan arah. 

Rabu, 01 September 2021

LUKA

Sebagaimana merobek kulit ari
Demikian juga adanya pedih perih
Mengikuti kemana pun luka mengering

Sedikit obat ditabur di luka nganga
Setelah dicuci di air mengalir
Melindungi dari angin dan debu

Luka dianyam, ditenun serupa kain
Sedikit gatal di sambungannya
Dan sejalur garis putih di bekasnya

INTRIK

Dari padepokan senjata Gandring
Sebilah keris ditempa dan diselundupkan 
Disematkan pada Kesatria Brahmana berhidung Sudra
Kepala penjaga Keakuwuan dan Kaputren

Seorang oportunis berjalan dengan congkak
Di punggungnya terselip keris
Keris pinjaman dari Arok
Keris kutukan tujuh turunan

Di malam gelap durjana
Bilah keris mengoyak perut
Racun warangan dengan cepat menjalar
Sang Tunggul Ametung terkapar tanpa nyawa

Penjaga temukan keris menghujam
Darah bersimbah di lantai
Ketakutan mencengkeram setiap nyali
Itu keris milik Kebo Ijo

Di ranjang Dedes tak dapat pejamkan mata
Di sisinya Arok, pembunuh suaminya, pulas
Di sisi lain, Umang madunya
Di perutnya janin keturunan sang Akuwu

LELAKI YANG MENGGADANG MALAM

Malam sepertinya tak pernah jelaga Karena bintang kerap tercerna Sebagai hidangan penutup Ia menyeduh kopi dengan harap Dan pahitnya membumb...