Rabu, 20 Oktober 2021

HANYA SATU PEREMPUAN BIASA

Kulitnya tidak sehitam malam
Ada dekik di antara senyumnya
Tubuhnya yang ranum buah
Sedikit bau birahi di lehernya

Daster tiga per empat dan pilinan rambut ikal
Tak jua tutupi segenap impian
Di antara geraknya yang serupa tarian
Mataku nanar seperti matahari barat

Ketika di kelokan 
Sedikit bayangnya memanjang sinar
Sambil menoleh genit 
Dia menghilang di kaki langit

Senin, 18 Oktober 2021

WAKTU UNTUK KITA

Sebagaimana waktu yang pecah bagai ratna
Tercerai berai dipenuhi kesibukan
Ketika kita kumpulkan hati
Lalu disusun layaknya puzzle
Yang terlihat hanya cermin retak

Maka jika kita memang memiliki potongannya
Sebutkan saja niat dan sambunglah tekad
Walau banyak perselisihan yang mencegah pertemuan
Namun carilah kesamaan pijak dan pikir
Niscaya kita dapat bersua sebagai bijak

Seteliti apapun tindak
Sehati-hatinya ucap
Jika telah ungkap
Sebagaimana hadirnya
Hanya lah sebuah kisah tak sampai

JARAK

Sesungguhnya pada mulanya adalah jarak
Hingga dikuatkan oleh waktu
Arahnya saling memunggungi, menjauh
Hingga satu saat menoleh untuk istirah

Bahkan rindu membutuhkannya jika sampai
Seberat apapun beban perpisahan
Selalu ada saat untuk meratap
Dan memanggil segenap cinta yang bercerai berai

Jarak dan usia bertolak belakang
Kian jauh jika terkenang
Padahal semua berawal dari mimpi
Hingga akhirnya berhenti sendiri

Jumat, 15 Oktober 2021

FRIKSI

Hatiku berkata, ya, kau benar! 
Namun akalku tersandung kerikil
Dengan naiknya derajat emosi
Hati dan akalku beradu punggung

Dengan kata kita bangun jembatan
Penghubung antara emosi yang pedih
Diikat dan dililit sedu sedan
Dikuatkan pilu yang mendelu

Tali telah diikat dan direkatkan
Karena usia butuh kompromi
Maka setelah friksi pergi
Kita hanya tinggal senyum merekah

Selasa, 12 Oktober 2021

KABUR

Ketika itu malam gelap pekat
Sepekat bayang-bayang
Tiba-tiba petir merobek langit
Dan siluet tubuhku terpapar sejenak

Karena angin tak mengirimkan kabar
Ku naiki pagar dan melompat
Dari bayangan petir yang menua
Terungkap papan bertuliskan "Rumah Panti"

Kemudian hujan turun sebagai gerimis
Seperti isak tangis
Menghapus jejak dan kenangan
Maka aku melangkah mengikuti takdir

Senin, 11 Oktober 2021

HANYA MILIKI WAKTU

Karena hanya waktu yang memiliki luang
Maka ku pilah-pilah menjadi kebutuhan
Lalu ku simpan di ruang ingatan
Sebagai bilangan hingga purnama

Namun waktu kadang melesat
Meninggalkan masa lalu dalam kenangan
Mengikuti rotasi pada porosnya
Sambil bertawaf di garis lintasnya

Waktu memang tak dapat dikejar
Didekati pun ia tak hendak
Kita hanya bisa mengikutinya dengan terseok
Sambil merapal doa harapan

Jumat, 08 Oktober 2021

DI HARI-HARI ITU

Kita adalah semangat itu sendiri
Sedikit alkohol menjadikan kita sebagai singa podium
Dengan gembira berdebat tentang omong kosong
Dengan sejumput kesombongan kita meninju langit

Bertahun telah lewat musim berganti
Semangat terkikis oleh waktu
Batas kesombongan hanya lah kompromi
Semua mimpi digilas kebutuhan dan hanyut

Di kafe itu aku menatap gelas
Isinya masih separuh
Ada bayangan lelaki dengan kerut di matanya yang merah
Inikah wajah yang dahulu semangat? 

AGUSTUS KE DELAPAN SATU

Podium hanyalah ruang caci maki Dan mimpi besar kemakmuran Adalah oligarki beserta kroni Ku reguk kopi pagi Terasa pahitnya hari Dikunyah de...