Lalu ia duduk dan menatap kopiku
Hingga nyaris dingin dibuatnya
Kutanya padanya,
mengapa kau meniupnya?
Ia hanya diam
lalu mendatangi dedaunan
Bersamanya ia terbang menyerbuki sisa kopiku
Hutan terbakar; itupun jika disebut hutan Api berkobar karena salah kemarau Dan dosa angin yang meniup hingga tetangga Tiada ada dosa puntun...