Lidahku kerap kelu mendelu
Hatiku berdebar tiada nyaman
Bahasa tubuhmu mengajuk
Merajuk pinta bahagia
Tatap matamu tajam menggugat
Menghujam dalam diantara kikukku
Tersungkur harga diriku
Menggapai mencari pegangan
Untuk menopang ragu sikapku
Namun hati tersandera keinginan
Sedang diammu tiada kata tolak
Satu ketika kau mendatangi gugupku
Kau rebahkan keinginan di malam purnama
Kulit kita bersentuhan saling mengecap rindu
Debarmu lembut mengajak
Memanggil bisik jiwaku sepi
Diiringi senandung lirih serenada
Kau kecup diamku dengan gairah
Kau belai segenap pasrah
Kau genggam setiap isyarat rahasia
Hingga aku hilang sadar
Terdampar pada bahagia yang asing
Ketika kita kembali kenakan topeng
Berukir santun bermakna norma
Langkah kita saling membelakangi takdir
Tubuh tetap rebah berdampingan
Mimpi terpisah oleh pejam malam
Makan di piring yang sama
Dengan lengan yang satu
Dan saji lauk beralas sahaja
Pendek kita berucap
Sedikit kita bercakap
Bertemu di ruang sepi berperi
Diam dan asyik dengan pikiran sunyi
Perlahan bayang kita semakin menjauh
Tanpa toleh tiada tegur apalagi sapa
Mencari sibuk di waktu yang berselisih
Terasing dalam biduk bernama rumahtangga
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
JANGAN TUNGGU LAMA
Tidaklah menunggu bahkan menunda Sebab tiada hasil nir keringat Harga... Nilai... Dinisbahkan pada waktu Ditasbihkan lewat air mata
-
Nampaknya musim tak serta merta bergulir Ia meletakkan panasnya di bahu siang yang terik Dan malam-malam yang sumuk singgah di peraduan Ket...
-
Daun terapung dan, jatuh di haribaan Menanggalkan warnanya dan, meninggalkan ranting yang merana Pada kering ia berlabuh Karena kenangan jel...
-
Seorang anak mengais nasib di tepi jalan Jari kecilnya merintih Tubuhnya ringkih Hingga berbayang tulang Panas menggerenyitkan wajahnya Baju...
Puisi ini menggambarkan dinamika cinta yang rumit dan penuh keraguan. Dengan bahasa yang penuh simbol dan emosi, puisi ini menyiratkan pergulatan batin dalam mengungkapkan perasaan dan berkomunikasi. Ada ketidakmampuan untuk mengekspresikan cinta secara verbal, namun dalam keheningan dan tindakan, hubungan tersebut tetap terasa, meski penuh dengan rasa canggung dan kebisuan.
BalasHapusBagian awalnya menggambarkan kesulitan untuk mencintai dan bagaimana rasa takut serta ketidakpastian mendominasi. Namun kemudian, ada momen keintiman dan penerimaan dalam keheningan, meski akhirnya hubungan kembali dibatasi oleh "topeng" dan norma sosial, membuat mereka semakin terpisah, meskipun fisik mereka masih bersama. Puisi ini memadukan perasaan cinta, kebingungan, keintiman, dan jarak secara halus dan mendalam.